Pentingnya Membangun Karakter dan Etika Peserta Didik di Era Digital

Salzadela Wahyu Kusuma • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:21 WIB
Seorang guru mendampingi siswa saat memanfaatkan perangkat digital di kelas. Pengawasan dan pembimbingan aktif menjadi kunci utama dalam menanamkan etika berinternet secara positif kepada peserta didik.
Seorang guru mendampingi siswa saat memanfaatkan perangkat digital di kelas. Pengawasan dan pembimbingan aktif menjadi kunci utama dalam menanamkan etika berinternet secara positif kepada peserta didik.

RADARPATI.JAWAPOS - Akses informasi yang tanpa batas di era digital membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan.

Selain penguasaan teknologi dan materi akademik, pembentukan karakter serta etika peserta didik kini menjadi fondasi utama yang tak boleh terabaikan dalam proses pembelajaran.

Kemudahan berinteraksi di ruang siber sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman etika bermedia yang cukup.

Baca Juga: VIRAL! Tak Segera Diperbaiki, Kepala SMP 2 Bae Kudus Nekat Bikin Konten Sekolah Rusak

Oleh karena itu, penanaman nilai moral dan kesadaran berinternet secara bijak perlu diintegrasikan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Berikut beberapa poin krusial dalam memperkuat karakter dan etika siswa di era serba digital:

1. Menanamkan Literasi Digital dan Cek Fakta

Peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir kritis saat menerima informasi dari internet. Memahami cara menyaring berita bohong (hoax) serta menghindari penyebaran ujaran kebencian merupakan bentuk nyata penerapan etika di ruang digital.

2. Membiasakan Etika Berkomunikasi di Media Sosial

Ruang digital membutuhkan kesantunan berbahasa yang sama dengan interaksi tatap muka. Pendidik dan orang tua berperan penting memberikan contoh bagaimana menyampaikan pendapat secara sopan, menghargai perbedaan argumen, serta menghormati hak cipta atau karya orang lain.

Baca Juga: Bahasa Inggris segera Jadi Mapel Wajib, Dinas Pendidikan di Kudus Gandeng FBI UMK

3. Mencegah Perundungan Siber (Cyberbullying)

Karakter yang kuat akan membentengi siswa dari tindakan perundungan di dunia maya. Kesadaran akan dampak psikologis dari komentar negatif harus terus ditanamkan agar lingkungan digital menjadi ruang yang aman dan saling mendukung sesama pelajar.

4. Keseimbangan Antara Dunia Maya dan Realita

Pendidikan karakter juga mencakup disiplin dalam mengelola waktu layar (screen time). Siswa diajak untuk tetap aktif bersosialisasi di dunia nyata, menjaga kesehatan fisik, serta tidak mengesampingkan tanggung jawab belajar.

Pembangunan karakter di era digital bukan sekadar melarang penggunaan gawai, melainkan mengarahkan potensi teknologi agar dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab, positif, dan beretika. (*)

Editor : Abdul Rochim
literasi digital etika digital karakter peserta didik bijak bermedia sosia pendidikan karakter