BLORA - Kejujuran menjadi dasar utama dalam menulis karya sastra.
Pesan itu mengemuka dalam seminar kesusastraan bertema Puisi di Ranah Ekspresi dan Edukasi yang digelar di Pendapa Kabupaten Blora dan diikuti para guru Bahasa Indonesia.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga sastrawan asal Semarang sebagai narasumber, yakni Timur Sinar Suprabana, Achiar M. Permana, dan Gunawan Budi Susanto.
Baca Juga: Total 79 Dapur MBG di Blora: 48 Sudah Ber-IPAL, 31 Belum Miliki Pengolahan Limbah
Seminar ini menjadi bagian dari program Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Blora untuk memperkuat kompetensi guru, khususnya di bidang sastra.
Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Blora, M. Rokhim, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi mengajar, tetapi juga pendalaman kesusastraan.
“Selain kompetensi keguruan, juga kesusastraan,” ujarnya.
Menurut Rokhim, pemahaman sastra sangat penting karena materi tersebut menjadi bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia yang wajib diajarkan kepada siswa.
Namun, tidak semua guru memiliki bekal mendalam terkait ilmu sastra, sehingga dibutuhkan dukungan dari narasumber yang kompeten.
“Materi sastra ada dalam pelajaran kita. Harus kita ajarkan. Maka kami butuh narasumber yang kompeten di bidang sastra,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemahaman kebahasaan dan sastra sangat diperlukan agar guru mampu mendampingi siswa dalam menulis karya sastra secara mandiri, tanpa terlalu bergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Di tengah AI, sastra melatih kejujuran. Tidak semua harus dimodifikasi dengan teknologi,” tuturnya.
Sastrawan Gunawan Budi Susanto yang akrab disapa Kang Putu menegaskan bahwa inti dari kepenulisan adalah kejujuran, baik dalam menulis puisi, cerpen, maupun karya sastra lainnya.
Ia mengingatkan agar penulis tidak mengandalkan AI dalam proses kreatif.
“Jangan gunakan akal imitasi yang orang bilang AI, Artificial Intelligence,” tegasnya.
Menurutnya, setiap manusia telah dibekali kemampuan berpikir oleh Tuhan tanpa diskriminasi. Karena itu, potensi akal dan pikiran harus dimaksimalkan dalam berkarya.
“Hai orang-orang yang berpikir. Tidak ada ‘hai orang-orang yang menggunakan AI’,” ucapnya disambut tawa peserta.
Kang Putu menilai, menulis tanpa bantuan AI berarti memaksimalkan potensi diri yang telah diberikan Sang Pencipta. Ia menekankan bahwa kejujuran adalah fondasi utama dalam proses kreatif.
“Kejujuran adalah basis kepenulisan. Dalam menulis puisi, cerpen, novel, atau apa pun, selalu ada kesadaran bahwa Gusti Allah pirso. Kalau kita jujur, itu memudahkan kita menulis,” tambahnya.
Melalui seminar ini, para guru diharapkan semakin mampu menanamkan nilai kejujuran dan kreativitas kepada siswa dalam proses belajar sastra, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya autentik dari generasi muda. (*/him)