PATI – Prestasi membanggakan diraih oleh dua siswa dari SMA PGRI 1 Pati. Keduanya berhasil meraih juara dalam ajang olimpiade Matematika di Thailand.
Kedua siswa itu bernama Alif Ilham Thobibul Hatif dan Euchristo Gamaliel.
Keduanya sukses meraih medali perak dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO), bersaing dengan peserta dari 24 negara.
Prestasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa sekolah swasta juga mampu bersaing di panggung global.
Sekaligus mematahkan stigma bahwa sekolah swasta hanya menjadi “pilihan kedua”.
Keberhasilan ini bukan diraih secara instan. Sebelum berangkat ke Thailand, Alif dan Euchristo harus melewati seleksi ketat yang digelar di MTs Abadiyah Pati.
Guru pembimbing matematika, Dwi Rahayu Kiswari, menegaskan bahwa proses pembinaan dilakukan secara bertahap, disiplin, dan penuh konsistensi.
“Tidak ada jalan pintas. Ada seleksi, pembinaan intensif, serta komitmen yang harus dijaga,” ujarnya.
Setelah lolos tahap awal dan meraih medali perak, keduanya mendapat undangan final untuk berlaga langsung di Thailand.
Pihak sekolah bersama kepala sekolah pun memutuskan untuk mendukung penuh keberangkatan mereka demi membawa nama baik sekolah.
Sejak September hingga Februari, Alif dan Euchristo mengikuti program pembinaan khusus Olimpiade Matematika setiap Jumat dan Sabtu.
Menjelang keberangkatan, mereka juga menjalani karantina akademik selama 10 hari penuh tanpa mengikuti pembelajaran reguler.
Setiap hari, mereka mengerjakan soal dari pagi hingga siang, dilanjutkan dengan sesi pendalaman dan modifikasi soal hingga sore hari.
Pada malam hari, keduanya tetap melanjutkan belajar secara mandiri di rumah.
Alif, yang akrab disapa Ibul, mengaku tidak merasa terbebani. Baginya, matematika bukan sekadar mata pelajaran, melainkan passion yang telah tumbuh sejak sekolah dasar.
Ia memiliki tekad kuat untuk berprestasi dan membanggakan keluarga serta sekolah.
Menariknya, Ibul tercatat sebagai peraih peringkat pertama medali perak dalam delegasi Indonesia. Capaian tersebut menjadi sejarah baru bagi SMA PGRI 1 Pati.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA PGRI 1 Pati, Sutono, menegaskan bahwa pendidikan modern tidak cukup hanya menekankan kedisiplinan.
“Disiplin membentuk karakter taat, tetapi kreativitas melahirkan pencipta peluang. Keduanya harus berjalan seimbang,” tegasnya.
Menurut Sutono, sekolah harus berani mendorong siswa untuk terjun ke kompetisi global. Mengikuti lomba bukan semata mengejar piala, melainkan membangun mental bertanding, daya juang, dan kepercayaan diri.
Ia menambahkan, bagi sekolah swasta, eksistensi tidak dibangun dari nama besar semata, melainkan dari kualitas dan prestasi nyata.
“Dulu kami dikenal karena kedisiplinan. Sekarang kami ingin dikenal karena keberanian dan kreativitas. Prestasi di TIMO membuktikan bahwa sekolah swasta mampu bersaing, bahkan melampaui sekolah negeri,” ujarnya.
“Dari Pati untuk dunia. Ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah pembuktian,” pungkasnya. (adr)
Editor : Achmad Ulil Albab