MASIH teringat betul saat dulu waktu sekolah ditanya cita-cita entah oleh guru maupun orang tua, besok cita-citanya mau jadi apa? Maka “guru” selalu menjadi jawaban klasik bersama profesi dokter dan pilot.
Namun, semua sudah berubah saat ini jika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada generasi sekarang. Jawaban yang mungkin akan sering terdengar adalah Youtuber, Influencer, content creator, programmer, atau entrepreneur.
Guru yang bergelar mulia pahlawan tanpa tanda jasa nyatanya sudah tak lagi populer atau bahkan tidak dikenali, bahkan dimengerti oleh generasi muda khususnya Gen Z.
Fenomena ini tentunya jangan kita lihat dari sudut pandang yang sempit, lantas beranggapan bahwa generasi sekarang hanya memikirkan sisi pragmatis belaka.
Dunia yang telah berubah dengan cepat inilah membawa mereka pada sebuah tantangan baru yaitu dunia yang realistis.
Didukung dengan pemerolehan informasi yang sangat terbuka dan cepat, mereka disajikan dengan dunia yang penuh dengan kalkulasi yang rasional sebagai bagian dari tuntutan zaman.
Fenomena inilah yang kemudian mereka jadikan sebagai sebuah pedoman dalam menentukan profesi yang akan mereka jalani nantinya.
Maka jangan heran jika dalam kalkulasi mereka, profesi guru sudah tidak masuk dalam top list.
Dan di saat bersamaan mereka disuguhkan pada kehidupan sukses dan glamor ala Youtuber, Influencer, content creator, programmer, dan entrepreneur.
Posisi Gen Z yang sangat fasih dan terbiasa dengan dunia digital membentuk sebuah karakter yang egaliter.
Mereka dengan mudah mengekspresikan pendapat secara bebas dan juga melakukan sikap korektif kepada siapa saja, khususnya di dunia media sosial.
Kebiasaan inilah yang tentunya menjadi ketakutan mereka manakala mereka mengambil keputusan menjadi seorang guru.
Mereka akan masuk ke dalam sebuah sistem yang mengharuskannya menjaga kewibawaan, menjaga keteladanan, mengedepankan sikap kesantunan yang itu artinya menjauhkannya dari dunia mereka sebenarnya.
Belum lagi pada tataran pengembangan karier guru yang dianggap slow motion atau bahkan jalan di tempat.
Untuk meningkatkan karier guru, dibutuhkan waktu yang cukup lama, mulai dari pendidikan profesi, kemudian mengurus administrasi yang cukup rumit.
Tidak seperti profesi influencer atau Youtuber misalnya, mereka cukup dengan mengikuti pelatihan singkat, atau bahkan bisa secara autodidak.
Hanya dengan melihat fenomena yang lagi ramai dan viral, mereka lantas memproduksi konten-konten yang menarik sehingga disukai oleh para netizen.
Namun, di tengah semua tantangan ini, masih ada sekelompok Gen Z yang memiliki panggilan hati dan tentunya punya nyali.
Dengan latar belakang keluarga guru, atau senang dengan dunia anak, dan mungkin memiliki pengalaman membimbing, mereka secara pasti memutuskan untuk mengambil peran sebagai seorang guru.
Mereka menganggap bahwa kebahagiaan dan mungkin kepuasan dalam hidup tak hanya sebatas materi, namun di saat berhasil membuat seorang siswa memahami hal-hal baru, atau menyelesaikan tugas sekolah yang itu tidak bisa digantikan dengan sekedar like dan view di media sosial.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana pemerintah melalui lembaga-lembaga pendidikan mampu menjadikan profesi guru menjadi relevan bagi mereka.
Bagaimana kemudian mereka tersadar bahwa ternyata mereka kurang tepat dalam memandang profesi guru.
Pertama, dari lembaga pencetak guru. Peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) harus berubah wujud dari sebatas “pabrik sertifikasi” menjadi pusat pengembangan talenta.
LPTK harus mampu menciptakan sebuah kurikulum yang bisa menyentuh dunia realita, bukan sekedar teori yang bertele-tele.
Dengan didukung networking yang kuat, berikan pengalaman nyata dengan pendampingan langsung para ahli dan praktisi.
Dan jika ingin mendapatkan hasil yang lebih baik lagi, datanglah ke sekolah-sekolah untuk mendapatkan siswa yang berkompeten dan jika perlu ikatlah dengan beasiswa.
Kedua, dari guru. Tunjukkanlah bahwa profesi guru adalah profesi yang keren. Guru juga memiliki peran sebagai influencer bagi para siswanya.
Guru perlu menunjukkan profesinya secara holistik, dalam artian bahwa profesi guru adalah tentang bagaimana mengembangkan diri menjadi lebih baik dan berpengetahuan sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap sesama manusia dan juga kepada bangsa.
Pada akhirnya, agar profesi guru memiliki daya tarik bagi generasi muda saat ini, khususnya Gen Z, perlu dicarikan solusi menyangkut urusan kesejahteraan, lingkungan kerja, ruang berkreasi yang luas, dan yang paling utama penghargaan profesional yang sesuai.
Sekolah atau LPTK harus mampu menawarkan ekosistem ala perusahaan inovatif, dilengkapi teknologi pendukung, budaya kolaboratif, dan alur pengembangan karier yang jelas.
Dengan kondisi seperti inilah profesi guru akan kembali sebagai pilihan atau top list generasi muda.
Sebaliknya, jika sekolah dan LPTK belum mampu menciptakan transformasi ini, bangsa kitalah yang akan rugi dan kehilangan.
Dengan bonus geografis dan populasi besar, bangsa kita akan kehilangan potensi terbaik untuk mendidik generasi penerus.
Kita akan melewatkan kesempatan menggerakkan pendidikan Indonesia dengan cara berpikir baru, yang penuh kreativitas dan inovasi, dan kecakapan digital yang melekat pada generasi muda.
Maka, tugas kita bersama adalah menjadikan profesi guru bukan lagi sekadar pilihan darurat, melainkan sebuah panggilan kebanggaan yang didukung oleh sistem yang nyata dan berkelanjutan. (*)
Mutohhar
(Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMK)
Editor : Syaiful Amri