Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Pendekatan Deep Learning: Sekadar Tren atau Solusi Nyata

Syaiful Amri • Sabtu, 3 Mei 2025 | 16:07 WIB

Ilustrasi Proses Pembelajaran
Ilustrasi Proses Pembelajaran

RADARPATI. ID - Akhir tahun 2024, Kementrian Pendidikan Dasar dan Menegah mulai menyuarakan pola pembelajaran baru yang disebut Deep Learning.

Meskipun disebutkan bahwa pola ini tidak lantas menggantikan Kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Merdeka, namun tentunya ini menjadi hal yang baru lagi bagi dunia pendidikan.

Dikutip dari laman resmi kemdikbud.go.id disebutkan bahwa pendekatan Deep Learning ini sebagai upaya untuk melakukan transformasi pendidikan agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dengan diterapkannya Deep Learning diharapkan menjadi pendekatan yang tepat untuk menyiapkan peserta didik dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Namun di sisi lain, sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2024 menyatakan bahwa tidak ada definisi, teori, atau kerangka kerja praktis yang terpadu pada pendekatan Deep Learning.

Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri karena berasal dari sifat lanskap pendidikan yang beragam dan kompleks, sehingga menimbulkan variasi dalam menafsirkan dan menerapkan Deep Learning di berbagai konteks.

Tren Global Penerapan Kurikulum Berbasis Deep Learning
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan deep learning dalam pendidikan telah menjadi tren global.

Banyak negara, termasuk Indonesia mulai meninggalkan sistem pendidikan yang berfokus pada hafalan dan mulai mengadopsi pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi.

Tren ini muncul sebagai respon terhadap tantangan abad ke-21 dan kebutuhan akan lulusan yang mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan cepat, terutama dalam konteks digital dan globalisasi.

Pendekatan pembelajaran berbasis deep learning memang dianggap mampu mendorong siswa untuk tidak sekedar "tahu", tapi juga "mengerti" dan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam konteks nyata.

Namun masih diperlukan adanya penelitian empiris yang substansial untuk menunjukkan keefektifannya seperti eksplorasi terhadap elemen-elemen tertentu dalam lingkungan belajar, pemahaman terperinci tentang keefektifan berbagai metode pengajaran, dan pengoptimalan pendekatan pengajaran untuk meningkatkan hasil dari Deep Learning itu tersendiri.

Penerapan Deep Learning di Beberapa Negara.
Mengutip dari New Pedagogies Deep Learning (NPDL) Global Report tahun 2016, pendekatan Deep Learning sebetulnya sudah mulai diinisiasi oleh enam (6) negara yaitu Australia, Kanada, Finlandia, Netherlands, New Zealand, dan Uruguay dan kemudian diikuti oleh 4 negara lainnya yaitu Denmark, Norwegia, Swedia, dan United States (USA).

NPDL dikembangkan sebagai respon terhadap adanya kesenjangan yang semakin lebar antara hasil pembelajaran tradisional dan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang urgent dalam mencapai kesuksesan di dunia saat ini.

Di negera Kanada, penggunaan Deep learning dimulai pada tahun 2018, dengan tujuan untuk memungkinkan semua siswa mencapai tingkat prestasi yang tinggi dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang mereka butuhkan untuk menjadi bagian dari masyarakat yang demokratis yang bertanggung jawab.

Selanjutnya, sebuah penelitian tahun 2022 yang dilakukan di China menunjukkan bahwa pendekataan deep learning dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Selain itu pendekatan Deep learning juga mampu meningkatkan nalar kritis siswa dan berdampak terhadap capaian pembelajarannya.

Akan tetapi dijelaskan juga bahwa kesuksesan implementasi deep learning juga ditentukan oleh metode dan model pembelajaran yang digunakan, sehingga keberhasilan belum bisa digeneralisasi untuk semua konteks pembelajaran.

Fleksibilitas Kurikulum dan Kesiapan Ekosistem Pendidikan
Seandainya Deep Learning diimplementasikan di Indoensia, baik sebagai pendekatan pembelajaran maupun kurikulum, fleksibilitas kurikulum seperti yang diusung oleh kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Merdeka, sebenarnya merupakan kekuatan, karena memberi ruang bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks lokal dan kebutuhan siswa.

Akan tetapi, fleksibilitas hanya akan efektif jika ekosistem pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, fasilitas, sistem penilaian, dan budaya belajar siap mendukungnya. Tanpa kesiapan tersebut, fleksibilitas justru bisa menimbulkan kebingungan, ketimpangan implementasi, dan inkonsistensi kualitas.

Perlunya Pendekatan Adaptif dan Transformatif, Bukan sekedar Copy-Paste.
Menggunakan sesuatu yang baru itu perlu, namun tetap menggunakan evaluasi dari yang sebelumnya.

Banyak negara gagal menerapkan reformasi kurikulum karena hanya mengadopsi model dari luar tanpa disertai penyesuaian konteks.

Pendekatan yang cenderung hanya copy-paste mengabaikan realitas lokal, seperti budaya sekolah, latar belakang guru, karakteristik peserta didik dan juga kesiapan teknologi.

Oleh karena itu, implementasi Deep learning di Indonesia harus bersifat adaptif (menyesuaikan dengan kondisi lokal) dan transformatif (mengubah pola pikir dan praktik pembelajaran secara mendalam).

Diperlukan adanya pelatihan yang bermakna, pendampingan berkelanjutan, dan perubahan sistemik yang tidak sekadar kosmetik.

Kesimpulan
Saat ini Deep learning mulai menjadi tren dalam dunia pendidikan, sudah seharusnya penting untuk memposisikannya bukan sekadar tren yang mengikuti arus global, melainkan sebagai solusi nyata terhadap kelemahan sistem pembelajaran yang ada di Indensia.

Deep learning harusnya bisa hadir untuk menjawab kebutuhan mendesak akan pendidikan yang relevan, bermakna, dan aplikatif, bukan sekadar mengganti nama, istilah atau metode, tetapi mengubah cara pandang terhadap tujuan pembelajaran: dari sekadar proses transfer pengetahuan menuju pembangunan pemahaman, karakter, dan keterampilan hidup.

Dibutuhkan penerapan yang kontekstual dan menyeluruh, sehingga deep learning bukanlah tren sesaat, namun benar-benar menjadi jawaban jangka panjang untuk masa depan pendidikan Indonesia yang lebih adaptif, inklusif, dan berdampak.

Berbagai tantangan implementasi Deep Learning pastinya selalu ada, namun masa depan pendidikan tetap bisa diarahkan ke jalur yang lebih baik melalui perubahan paradigma di mana guru bukan lagi sebagai pusat pengetahuan, tapi lebih pada fasilitator pembelajaran.

Siswa bukan lagi sebagai penerima pasif, tapi pembelajar aktif yang diberdayakan dan Deep learning membuka peluang untuk itu semua.

*Mutohhar*
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muria Kudus

Editor : Syaiful Amri
#pendidikan #kurikulum pendidikan #universitas muria kudus #Deep Learning