Oleh Nina Sofiana*
DARI balik meja dosen, saya kerap merenungkan satu hal yang selalu menjadi dinamika dalam mengajar.
Tak jarang saya dihadapakan antara dua pilahan sulit, mengajar agar mahasiswa bisa atau mengajar untuk sekadar memenuhi kewajiban saya sebagai dosen. Dinamika seperti Inilah yang sering terjadi di saat saya mengajar.
Tentunya semua orang akan sependapat, sebagai dosen, haruslah memilih pilihan yang pertama.
Saya pun seperti itu, karena saya percaya bahwa setiap langkah yang dilakukan di ruang kelas harus memiliki tujuan besar, terutama untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang penuh tantangan.
Mengingat pendapat Paul Tough (2012), dalam bukunya yang berjudul How Children Succeed: Grit, Curiosity, and the Hidden Power of Character, ia menekankan bahwa ketekunan dan kemampuan untuk mengatasi tantangan merupakan keterampilan penting yang harus diajarkan dalam pendidikan.
Namun, di tengah idealisme itu, tidak jarang saya dihadapkan pada sebuah dilema.
Saat sesi akhir semester, tepatnya pada sesi evaluasi terhadap dosen yang dilakukan oleh mahasiswa melalui aplikasi pembelajaran kampus, respons yang sering kali muncul adalah keluhan bahwa tugas yang saya berikan "terlalu banyak dan berat”.
Sebagai dosen, tentu saya sadar akan batas kemampuan mahasiswa, tetapi saya juga percaya bahwa batas itu bisa didorong lebih jauh dengan tuntutan yang tepat.
Dalam proses pembelajaran, tentunya saya tidak asal memberikan tugas atau project.
Setiap instruksi yang saya buat telah saya rancang dengan matang, berlandaskan pengalaman dan kebutuhan nyata di dunia kerja nanti.
Contohkan saja, ketika saya meminta mahasiswa membaca materi yang saya share di E-Learning untuk mata kuliah Writing, itu bukan sekadar aktivitas tanpa makna.
Melainkan tujuannya adalah melatih kemampuan berpikir kritis, menajamkan analisis, sekaligus memperluas wawasan mereka.
Mengingat apa yang disampaikam oleh Karima Tayaa (2022) dalam penelitiannya bahwa kemampuan writing yang baik bisa didapatkan ketika banyak kosakata yang mereka dapatkan dan wawasan akan pengetahuan lewat dasar tahapan belajar bahasa inggris yakni membaca.
Tidak semua mahasiswa memahami ini sejak awal. Ketika saya menegaskan bahwa membaca adalah syarat mutlak untuk menulis dengan baik, beberapa mahasiswa justru abai akan hal tersebut.
Tak sedikit mahasiswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang saya lontarkan mengenai apa yang telah dipelajarinya.
Di sisi lain, ketika saya menambahkan tugas untuk membaca lebih dan menyimpulkan apa yang mereka baca, tentu saja karena kelalaiannya, beberapa pertanyaan yang sering saya dengar adalah “Apakah tugas ini tidak bisa dikurangi?”.
Tentu saja, ini merepresentasikan bahwa kesiapan dan kesadaran mereka akan belajarpun sangat kurang, apalagi ketika saya hanya membiarkan tingkah laku tersebut.
Inini mengingatkan saya pada buku dengan judul “Era Disrupsi: Peluang Dan Tantangan Pendidikan Tinggi Indonesia” karya Mayling Oey-Gardiner di tahun 2007.
Dalam buku ini menegaskan bahwa dunia pendidikan khususnya di jenjang perguruan tinggi, kesiapan dan kesadaran mahasiswa dalam belajar adalah kunci dari kesuksesan yang merekan inginkan.
Sebagai seorang pendidik, saya berada di posisi yang dilematis. Apakah saya harus menuruti mereka demi menjaga kenyamanan? Atau justru bertahan pada prinsip bahwa proses belajar yang efektif sering kali melibatkan ketidaknyamanan? Dalam hal ini, saya memilih yang kedua.
Bukan Tuntunan Tapi Menuntun
Mungkin pilihan saya bertahan pada prinsip bahwa proses belajar yang efektif menuntut mereka untuk menghadapi berbagai tugas atau project yang saya berikan.
Di awal ini merupakan tantangan bagi saya, tetapi mengingat perkataan yang di lontarkan oleh Prof. Dr. H. Suwatno, M.Si. dalam berita UPI (2022) bahwaa seorang dosen adalah pemimpin dan orang tua bagi mahasiswa dimana ketegasan dalam mengambil tindakan adalah bagian dari tanggung sebagai dosen dalam membina mahasiswanya.
Saya pun percaya, bahwa tugas seorang dosen atau guru bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi tantangan.
Ketika saya meminta mahasiswa untuk menyelesaikan tugas tepat waktu, itu bukan semata-mata demi nilai.
Lebih dari itu, saya ingin mereka terbiasa dengan proses yang terstruktur.
Contohnya, dalam pembelajaran Writing khususnya untuk menulis Essay, saya memberikan tugas sesuai dengan disiplin ilmu yang ada dan dikumpulkan secara berkala mulai dari pembuatan introductory paragraph, body paragraphs, sampai dengan conluding paragraph.
Ini harus di selesaikan tepat waktu, mengingat bahwa selain mereka dapat membuat essai yang baik dan tepat, juga harus terbiasa dalam mengorganisisr waktu dalam membuatnya.
Menariknya, meskipun banyak yang mengeluh di awal, hasil dari proses ini kerap membuat saya bangga. Mahasiswa yang tadinya merasa tugas yang saya berikan terlalu berat, perlahan menunjukkan peningkatan.
Essay yang mereka tulis semakin terstruktur, ide-ide yang mereka sampaikan semakin bernas.
Mereka tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar berpikir kritis dan mengorganisasi argumen dengan baik.
Di sini, saya semakin menyadari pentingnya konsistensi. Jika saya terlalu sering memberikan toleransi, hasilnya justru berbanding terbalik.
Mahasiswa menjadi abai, cenderung kurang serius, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk belajar secara maksimal.
Prof. Dr. Tjokorda Raka Joni, M.Sc.: Soko Guru Pendidikan di Indonesia dalam seminarnya di tahun 2016 mengatakan bahwa pendidik memiliki tugas mengelola meteri yang disampaikan, dalam rangka menjadikan proses berpikir dalam belajar yang memaksimalkan keterlibatan mental (mental engagement) peserta didik dalam menjalani kegiatan belajar yang dialaminya, sehingga merupakan inti dalam artikulasi tentang proses pembelajaran.
Tuntutan yang Membentuk Karakter
Sebagai dosen, saya percaya bahwa pendidikan adalah tentang membentuk karakter.
Tuntutan yang saya berikan bukan hanya sekadar untuk menguji kemampuan akademik, tetapi juga untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan etika kerja yang baik.
Hal ini sangat penting di dunia kerja, di mana kedisiplinan dan ketepatan waktu adalah hal yang sangat dihargai.
Menurut riset yang dilakukan oleh Yunanto & Kasanova dalam Journal on Education (2023), karakter yang terbentuk selama masa pendidikan tinggi akan berpengaruh besar terhadap performa profesional di masa depan.
Dalam mengembangkan karakter tersebut, salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan memberikan bahan bacaan terkait dengan materi yang akan dibahas, dan mewajibkan mereka membaca materi tersebut, serta mempresentasikannya secara singkat di awal pembelajaran maksimal selama 5 menit per kelompok.
Model ini merupakan model yang saya adopsi dari pembelajaran mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra yang diterapkan oleh Prof. Puji Astuti S.Pd., M.Pd., Ph.D.
Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik tetapi juga membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, kesadaran dalam membaca dan keberanian untuk berkontribusi aktif dalam pembelajaran.
Dengan ketegasan dan tantangan yang diberikan, saya yakin mahasiswa akan siap menghadapi dunia yang penuh dengan tuntutan dan tantangan.
Saya juga percaya, suatu hari mereka akan mengingat bahwa setiap tugas yang mereka kerjakan bukan hanya untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi sebagai latihan untuk menghadapi kehidupan yang lebih besar. (*/war)
*Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Bahasa S3 Universitas Negeri Semarang dan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara