Temuan tersebut mencakup bahan pangan yang dinilai tidak layak hingga fasilitas sanitasi dan pengelolaan limbah yang belum berfungsi optimal.
Temuan itu diketahui saat Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra melakukan inspeksi mendadak ke lima dapur SPPG di Kecamatan Cluwak, Jumat (25/9) dini hari.
Baca Juga: Cacing Air Bergeliat di Nampan Ompreng MBG Siswa MAN 1 Pati
Sidak dilakukan sejak sebelum Subuh hingga setelah waktu salat tersebut. Lima lokasi yang diperiksa yakni SPPG Cluwak 004, Sumur 01, Sumur 02, Ngawen, dan Ngablak.
Pemeriksaan menyasar kondisi dapur, bahan baku, penerapan standar operasional prosedur (SOP), hingga fasilitas pendukung untuk memastikan proses pengolahan makanan berjalan aman.
Jeruk Menghitam hingga Lele Berukuran Kecil
Salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan proses penyortiran bahan makanan.
Dalam pemeriksaan, ditemukan buah jeruk yang secara fisik sudah menunjukkan kondisi tidak layak konsumsi.
Chandra menilai bahan seperti itu seharusnya sudah dipisahkan sebelum masuk ke tahap pengolahan.
Temuan serupa juga terlihat pada bahan lauk. Sejumlah ikan lele berukuran sangat kecil diketahui masih lolos sortir dan berada di area pendinginan.
Ukuran ikan tersebut dinilai kurang layak karena bagian tubuhnya didominasi kepala dan tulang.
Chandra meminta pengelola SPPG bersama mitra pemasok lebih selektif memilih bahan makanan.
Menurutnya, kualitas bahan baku tidak seharusnya dikorbankan demi memperoleh harga yang lebih murah.
“Berikan yang terbaik buat putra-putri kita. Jangan sampai mengambil supplier-supplier yang murah (tetapi abai pada kualitas), karena ini adalah faktor pemicu utama masalah keracunan,” tegas Chandra.
Ia juga mengingatkan agar bahan pangan yang telah rusak tidak dicampur dengan bahan lain yang masih dalam kondisi baik.
Jeruk yang sudah menghitam, misalnya, berpotensi menyebabkan kontaminasi silang jika tetap ditempatkan bersama buah yang masih layak.
IPAL hingga Jalur Produksi Ikut Disorot
Selain bahan baku, fasilitas pengolahan limbah menjadi bagian yang diperiksa.
Di sejumlah dapur, Chandra menemukan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) belum berfungsi secara optimal.
Bahkan, terdapat lokasi yang keberadaan IPAL-nya dinilai belum lebih dari sekadar formalitas.
Saluran pembuangan juga belum seluruhnya dilengkapi grease trap atau penyaring lemak.
Padahal, sisa minyak dan lemak dari aktivitas memasak dapat menumpuk di saluran apabila tidak dikelola dengan baik.
Persoalan lain yang ditemukan berkaitan dengan air untuk memasak yang disebut belum memenuhi standar SNI.
Penataan jalur keluar-masuk makanan, ruang pemorsian, area pendinginan, serta pemisahan gudang bahan basah dan bahan kering juga masih perlu diperbaiki di sejumlah dapur.
Meski menemukan sejumlah catatan, Chandra menegaskan kondisi setiap SPPG tidak sama. Ada dapur yang dinilai telah menerapkan standar dengan baik.
Salah satunya SPPG di Kramat Ngablak. Fasilitas tersebut disebut memiliki lantai epoksi dan tata ruang yang dinilai baik sehingga dapat menjadi rujukan bagi dapur SPPG lainnya.
“Salah satunya di Kramat Ngablak, fasilitasnya sudah memenuhi standar. Lantainya sudah epoksi dan tata letaknya bagus, sehingga bisa jadi rujukan bagi SPPG lain di Kabupaten Pati,” ujar Chandra.
Pengawasan Bakal Dilanjutkan
Berbagai temuan dalam sidak tersebut menjadi bahan evaluasi Pemkab Pati. Pengawasan terhadap dapur MBG dipastikan tidak berhenti pada pemeriksaan mendadak.
Pemerintah daerah akan melanjutkan pemeriksaan secara berkala terhadap SPPG yang beroperasi di Kabupaten Pati.
Langkah tersebut diarahkan untuk mencegah persoalan keamanan pangan sekaligus memastikan makanan yang diberikan kepada siswa memenuhi aspek kebersihan, keamanan, dan kecukupan gizi.
Chandra menegaskan kualitas bahan baku dan kondisi dapur merupakan bagian penting dari keberhasilan program MBG.
“Yang paling penting, program ini harus benar-benar memberikan makanan yang aman dan bergizi bagi anak-anak. Jangan sampai tujuan baik program MBG justru terganggu karena persoalan kualitas bahan maupun pengelolaan dapur,” pungkasnya.(*)