PATI – Dugaan keracunan makanan menimpa ratusan siswa dan sejumlah guru di dua sekolah di Kabupaten Pati.
Mereka mengalami sejumlah gangguan kesehatan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dua sekolah yang terdampak yakni MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong.
Makanan MBG yang dikonsumsi siswa diketahui didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 01 Ngembes.
Di MTsN 3 Pati, sedikitnya 127 dari total 565 siswa mengalami keluhan kesehatan.
Mayoritas siswa yang terdampak merupakan pelajar kelas VIII dan IX.
Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, mengatakan makanan MBG seharusnya diterima siswa sekitar pukul 11.20 WIB.
Namun, makanan tersebut baru tiba sekitar pukul 12.00 WIB.
"MBG dari SPPG ini datangnya terlambat, sekitar jam 12-an. Anak-anak yang biasanya jadwal makan jam 11.20 karena penjadwalannya demikian, sampai jam 12 belum datang," ujar Zaenal.
Keterlambatan tersebut membuat siswa terlebih dahulu melaksanakan salat Dzuhur sebelum makanan dibagikan.
Saat disantap, para siswa disebut tidak langsung mengalami keluhan.
Gangguan kesehatan justru mulai dirasakan pada sore hingga malam hari.
Sejumlah siswa mulai mengeluhkan sakit perut, mual, pusing, hingga diare.
Zaenal menyebut keluhan di kalangan siswa mulai muncul sekitar pukul 23.00 dan berlanjut hingga Rabu (9/9) pagi.
"Mulai jam 23.00 itu mulai sakit perut, kemudian berak ke belakang (diare), dari sering sampai tadi pagi anaknya," jelasnya.
Tak hanya siswa, sejumlah guru yang ikut mengonsumsi makanan MBG juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.
Pihak sekolah masih melakukan pendataan terhadap warga sekolah yang terdampak.
Padahal, saat makanan dibagikan, siswa disebut menikmati menu tersebut.
Bahkan, beberapa siswa mengaku makanan yang diberikan terasa enak dan ada yang meminta tambahan.
"Anak-anak kemarin malah merasakan enak, ada yang sampai nambah. Ada anak yang tidak masuk, jatahnya dimakan temannya," ungkap Zaenal.
Menu MBG yang dibagikan berupa nasi bakar dengan lauk ayam suwir.
Selain itu, tempe yang dipotong kecil-kecil.
Salah seorang siswi MTsN 3 Pati, Nehisa, mengatakan dirinya turut menyantap makanan tersebut.
Menurutnya, makanan terasa enak, tetapi setelah makan dirinya mulai mengalami mual dan pusing yang kemudian disertai diare.
"Kemarin juga ikut makan, rasanya juga enak, menunya nasi bakar. Setelah makan terasa mual dan pusing, terus diare. Itu dirasakan kemarin sore," tutur Nehisa.
Meski sempat mengalami sejumlah keluhan, kondisi Nehisa kini mulai membaik.
"Alhamdulillah hari ini sudah mulai baikan," ujarnya.
Para siswa yang mengalami keluhan kemudian mendapatkan penanganan medis.
Sebagian pasien ditangani secara terpusat di RSUD RAA Soewondo Pati untuk memudahkan koordinasi antarinstansi.
"Di RSUD Soewondo Pati, jadi kita terpusat di sana sehingga koordinasinya nanti lebih mudah," kata Zaenal.
Dia juga mengapresiasi petugas Dinas Kesehatan, kepolisian, dan TNI yang turut membantu proses penanganan para siswa.
Pada hari yang sama, dugaan keracunan juga terjadi di SMPN 1 Gembong.
Sebanyak 103 dari total 443 siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Selain siswa, sekitar 13 guru yang turut menyantap makanan tersebut juga mengalami gangguan kesehatan.
Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, mengatakan pihak sekolah mulai mengetahui adanya keluhan dari siswa pada Rabu pagi.
Sejumlah siswa terlihat berulang kali pergi ke kamar mandi karena mengalami sakit perut.
"Awal ketahunya malah tadi pagi. Anak-anak banyak yang ke kamar mandi. Kemudian semakin siang semakin banyak," ujar Istiana.
Melihat jumlah siswa yang mengalami keluhan terus bertambah, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan Puskesmas Gembong.
Namun, karena kapasitas layanan kesehatan tersebut penuh, para siswa kemudian dirujuk ke sejumlah rumah sakit di Pati.
"Sudah kita kontak Puskesmas, anak-anak dibawa ke Puskesmas. Tadi Puskesmas sudah overload, kemudian di RSUD Soewondo Pati, kemudian juga di RS Mitra Bangsa, ada juga yang di KSH Pati," jelasnya.
Istiana menjelaskan, makanan MBG yang diterima sekolah pada hari sebelumnya langsung dibagikan kepada siswa.
Pada kemasan makanan juga tercantum keterangan agar makanan dikonsumsi sebelum pukul 12.00 WIB.
"Biasanya sebelum istirahat pertama, jam 09.30 WIB. Kalau di tray itu kan ada tulisannya, dimakan sebelum jam 12. Sehingga begitu datang langsung kami berikan ke anak-anak," ungkapnya.
Seperti yang terjadi di MTsN 3 Pati, siswa SMPN 1 Gembong juga tidak langsung mengalami keluhan setelah menyantap makanan.
Bahkan, sebagian siswa disebut menikmati menu tersebut dan ada yang meminta tambahan.
"Anak-anak kemarin enjoy saja, biasanya sering malah ada yang minta tambah," katanya.
Keluhan baru mulai muncul pada sore hingga malam hari.
Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami gejala dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan.
"Setelah itu baru sore sama malam. Tadi saya tanya, sore sama malam itu sudah mulai," imbuh Istiana.
Sejumlah siswa yang menjalani perawatan kemudian diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Salah satunya siswa yang sempat dirawat di RS Mitra Bangsa.
"Yang di Mitra Bangsa sudah sembuh, sudah dikembalikan ke sini," ujarnya.
Atas kejadian tersebut, pihak sekolah berharap distribusi makanan MBG ke sekolah-sekolah dapat dilakukan lebih cepat dan menyesuaikan waktu konsumsi yang tercantum pada kemasan.
"Kita sama-sama semua, mohon untuk jam distribusi ke sekolah-sekolah secepatnya. Itu saja, sekolah-sekolah kan kendaliannya di sekolah-sekolah," tegas Istiana.
Dia mengatakan keterlambatan distribusi makanan MBG sebenarnya pernah terjadi sebelumnya.
Namun, selama ini keterlambatan tersebut tidak sampai menimbulkan persoalan.
"Sebelumnya pernah telat, cuma aman," katanya. (adr)
Editor : Abdul Rochim