Bendung Karet Sungai Juwana Pati Kering Kerontang, Ribuan Ikan Sapu-Sapu Terdampar

Andre Faidhil Falah • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 19:58 WIB

DIPEGANG: Warga setempat menunjukkan ikan (inset) terdampar di dasar Sungai Silugonggo. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)
DIPEGANG: Warga setempat menunjukkan ikan (inset) terdampar di dasar Sungai Silugonggo. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI – Pemandangan tak biasa terjadi di Bendung Karet Sungai Juana atau Sungai Silugonggo, Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan.

Sungai yang selama ini menjadi salah satu sumber pengairan bagi ribuan hektare lahan pertanian tersebut mendadak mengering.

Kondisi dasar sungai yang retak dan kering membuat banyak ikan sapu-sapu terdampar. Sebagian ikan ditemukan sudah mati.

Baca Juga: Waduk Seloromo Gembong Menyusut, Air Diperkirakan Tinggal Dua Pekan

Fenomena tersebut memicu rasa penasaran warga yang kemudian berdatangan ke lokasi untuk melihat kondisi bendung.

Kabar mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana juga menyebar melalui media sosial. Anton, warga asal Juwana, mengaku sengaja datang setelah melihat video kondisi bendung yang beredar.

“Kondisi Bendung Karet ini seingat saya tidak pernah asat seperti ini. Ini kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkap Anton.

Ia menduga kondisi tersebut dipengaruhi kemarau yang ekstrem. Selain itu, air sungai disebut terus disedot menggunakan pompa oleh petani di sepanjang aliran Sungai Juana untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah.

Hal senada disampaikan Lukito, warga Desa Bungasrejo. Menurutnya, tingginya kebutuhan air untuk pertanian turut mempercepat penyusutan debit sungai.

Di sisi lain, pasokan air dari hulu, termasuk Waduk Kedung Ombo di Kabupaten Grobogan, juga mengalami penurunan.

“Akibatnya ya seperti ini, jutaan ikan sapu-sapu terdampar dan mati. Kami sangat berharap ada bantuan pasokan air dari waduk lain ke Sungai Juana. Jika kemarau ini semakin panjang, dampaknya akan sangat buruk bagi petani di sekitar bendung,” harap Lukito.

Ancam Pengairan Sawah

Mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana dinilai dapat menimbulkan persoalan serius bagi sektor pertanian.

Bendung tersebut memiliki fungsi penting dalam mengatur distribusi air irigasi sekaligus menjadi penyekat antara air tawar dan air laut.

Ketika ketersediaan air tawar menurun, kebutuhan pengairan sawah di kawasan tersebut ikut terancam. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko gagal panen apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

Pengamat lingkungan Hendy Hendro Hadisujono menilai persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor alam. Menurutnya, terdapat persoalan infrastruktur yang turut memengaruhi kondisi Sungai Silugonggo.

“Mengeringnya sungai ini dipicu oleh adanya kebocoran atau kerusakan pada bendung karet di Desa Bungasrejo yang terjadi pada bulan Juli 2026 kemarin,” terang Hendy.

Ia menjelaskan, bendung karet dirancang dapat mengembang dan mengempis.

Infrastruktur tersebut memiliki fungsi penting untuk mengendalikan banjir saat musim hujan, menahan air tawar pada musim kemarau, mencegah intrusi air laut ke wilayah hulu, serta mengatur debit air untuk kebutuhan irigasi.

“Namun karena rusak, bendung karet ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga air tawar bablas begitu saja,” tegasnya.

Perlu Penanganan Jangka Panjang

Hendy menyarankan pemerintah dan pemangku kepentingan segera melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan tersebut.

Pertama, dinas terkait di Pati bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) perlu segera berkoordinasi memperbaiki kebocoran bendung karet agar kembali berfungsi optimal.

Selain itu, dapat dilakukan rekayasa aliran dengan mengalirkan air dari bendungan di wilayah hulu jika memungkinkan.

Namun, langkah tersebut harus diperhitungkan secara cermat karena petani di wilayah hulu juga membutuhkan pasokan air.

Hendy juga menyarankan pembuatan sumur bor dalam atau pemompaan air dari titik terdalam dasar sungai yang masih menyisakan air.

“Selain itu melakukan pemeliharaan bendung secara kontinu. Bukan hanya saat terjadi kerusakan,” paparnya.

Menurutnya, petani pengguna air Bendung Karet Silugonggo juga perlu dilibatkan melalui pembentukan komunitas. Kelompok tersebut dapat membantu merawat sekaligus memantau kondisi bendung.

Langkah lain yang dinilai penting adalah normalisasi sungai dengan mengeruk sedimentasi lumpur. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tampung sungai.

Di samping itu, perlu disusun standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dan mudah dipahami terkait pengoperasian bendung.

“Meningkatkan koordinasi antara BBWS, BPSDA Seluna, DPUTR, Dinas Pertanian, dan kelompok tani. Kemudian menghijaukan kembali kawasan daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu yang saat ini gundul dan kritis,” pungkasnya. (adr/him)

Editor : Abdul Rochim
kekeringan Pati Bendung Karet Sungai Juana Sungai Silugonggo kering ikan terdampar petani Jakenan