Sungai Juwana Pati Ambles, Retakan 100 Meter Ancam 150 Rumah di Jakenan

Achmad Ulil Albab • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:38 WIB
AMBLES: Sekdes Tondomulyo, Jakenan Suhali menunjukkan lokasi retakan sempadan tanah di bawah Jembatan Sampang, (26/8). ANDRE F/RADAR PATI)
AMBLES: Sekdes Tondomulyo, Jakenan Suhali menunjukkan lokasi retakan sempadan tanah di bawah Jembatan Sampang, (26/8). ANDRE F/RADAR PATI)

PATI – Fenomena tanah retak dan ambles kembali terjadi di sempadan Sungai Juwana (Silugonggo).

Kali ini, kejadian melanda Dukuh Sampang, Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, dan memicu kekhawatiran warga karena berpotensi mengancam sekitar 150 rumah.

Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi tanah mengalami kerusakan cukup parah. Retakan membentang sekitar 100 meter tepat di bawah Jembatan Sampang.

Kedalaman amblesan mencapai sekitar 50 sentimeter, sedangkan lebar retakan diperkirakan 30 sentimeter.

Baca Juga: Rumah Warga Kajar Pati Jadi Sasaran Tembak Gotri, Diduga Terkait Aksi ke Jakarta

Dampak amblesan juga mulai terlihat pada sejumlah bangunan di sekitar lokasi. Rumah pompa air dan punden bersejarah Mbah Sati kini dilaporkan dalam kondisi miring.

Warga setempat, Suparno, mengatakan retakan mulai terlihat sekitar sepekan terakhir. Kondisinya kemudian semakin parah dari hari ke hari.

“Kami sangat khawatir karena ada 150 rumah di sini. Takutnya amblesan ini terus meluas sampai ke rumah warga,” ujarnya.

BPBD Koordinasi dengan BBWS

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kabupaten Pati Suntoro mengatakan pihaknya telah bergerak melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk menentukan langkah mitigasi.

Menurutnya, penanganan berkaitan dengan kondisi sungai menjadi kewenangan BBWS.

“BBWS yang punya kewenangan penuh terkait urusan sungai,” katanya.

Sementara itu, warga menduga fenomena tanah ambles tersebut berkaitan dengan pengoperasian bendung karet yang membuat debit air Sungai Juwana menyusut.

Warga menyebut kejadian serupa belum pernah terjadi sebelum bendung karet beroperasi.

Sekretaris Desa Tondomulyo, Suhali, membenarkan adanya dugaan tersebut.

Menurutnya, kawasan sungai yang kini mengalami penyusutan air berada tidak jauh dari bendung karet yang berfungsi memisahkan air sungai dan air laut untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Di balik dinding penahan bendung, kata Suhali, sebenarnya masih terdapat air. Namun, air tersebut merupakan air laut dengan kondisi asin.

“Kenyataannya sungai malah mengering. Sudah berlangsung enam sampai tujuh hari ini,” kata Suhali.

Kondisi sempadan Sungai Juwana yang retak dan ambles kini menjadi perhatian karena lokasinya berada dekat dengan permukiman warga.

Pemerintah daerah bersama pihak berwenang terkait diharapkan segera melakukan kajian dan langkah mitigasi untuk mencegah kerusakan meluas serta memastikan keselamatan warga di sekitar lokasi. (*/him)

Editor : Abdul Rochim
Sungai Juwana ambles tanah retak Jakenan 150 rumah terancam Desa Tondomulyo bendung karet Juwana