Sungai Silugonggo di Pati Mengering, 127 Hektare Padi Terancam Gagal Panen

Abdul Rochim • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:15 WIB


KERING: Air di Sungai Silugonggo mulai mengering beberapa hari ini.  (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

KERING: Air di Sungai Silugonggo mulai mengering beberapa hari ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI – Kekeringan yang melanda sekitar tiga pekan terakhir mulai mengancam lahan persawahan di Desa Sugiharjo, Kabupaten Pati.

Sebanyak 127 hektare sawah di Dukuh Gilis dan Dusun Garas terancam gagal panen akibat menyusutnya debit Sungai Silugonggo.

Plt Sekretaris Desa Sugiharjo sekaligus perwakilan petani, Kaswanto, mengatakan petani selama ini mengandalkan pompanisasi dari Sungai Silugonggo untuk mengairi sawah. Namun, debit sungai yang terus menurun membuat pompa kesulitan menyedot air.

“Untuk Dukuh Gilis sendiri ada sekitar 62 hektare sawah yang dari pompanisasi, dan untuk Dusun Garas ada sekitar 65 hektare,” ujarnya.

Baca Juga: Sungai Silugonggo di Pati Mulai Mengering, Petani Diminta Ubah Pola Tanam

Tanaman padi saat ini rata-rata berusia 35 hingga 45 hari setelah tanam. Sebagian besar menggunakan varietas dengan masa tanam hingga panen sekitar 70 hari. Artinya, tanaman masih membutuhkan pasokan air rutin setidaknya 25 hari ke depan.

Kaswanto menyebut belum seluruh tanaman mengalami puso. Namun, ancaman gagal panen semakin besar apabila debit sungai terus menyusut tanpa tambahan pasokan air.

“Kalau dua minggu lagi tidak ada air, ini nanti bisa dipastikan gagal panen karena air sudah tidak bisa disedot dengan pompa,” tegasnya.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pertanian, tetapi juga aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sungai.

Pengamat lingkungan sungai Ari Subekti menilai pemerintah dan pihak terkait perlu melakukan kajian mengenai ketersediaan debit Sungai Silugonggo dan kebutuhan air lahan pertanian. Menurutnya, pemetaan volume air dengan kebutuhan irigasi penting sebagai dasar pengelolaan sumber daya air.

“Dari pihak-pihak tertentu perlu mengkaji. Petani ini tidak tahu mengenai volume air sungai,” katanya.

Ia juga menilai pengelolaan Bendung Karet perlu dievaluasi karena berkaitan dengan pengaturan aliran Sungai Silugonggo. Kajian menyeluruh diharapkan dapat membantu menentukan pola pemanfaatan air dan meminimalkan potensi kerugian petani akibat kekeringan. (adr/him)

Editor : Abdul Rochim
kekeringan Pati sawah gagal panen Bendung Karet petani pati sungai silugonggo