PATI – Sungai Silugonggo mulai berangsur mengering dalam sepekan terakhir.
Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pati membuat debit air sungai terus menyusut hingga dasar sungai mulai terlihat.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah titik aliran sungai. Bahkan, beberapa perahu mulai bersandar karena permukaan air terus menurun.
Kondisi serupa juga terlihat di Sungai Gilis yang berada di Desa Sugiharjo, Pati.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Martinus Budi Prasetya mengatakan, menyusutnya debit air sungai tidak lepas dari siklus kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Baca Juga: Bayi Ditemukan di Bengkel Trangkil Pati Dititipkan di RS, Kondisinya Sehat
Menurutnya, jumlah hari tanpa hujan selama Agustus terus bertambah. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut hingga September mendatang.
“Kemudian dimungkinkan akan bertambah panjang di September nanti. Inilah yang dimaksud dengan hidrometeorologi kering,” paparnya.
Melihat kondisi tersebut, BPBD sebelumnya telah mengingatkan para petani agar melakukan antisipasi.
Salah satunya dengan menyesuaikan pola tanam berdasarkan ketersediaan air.
“Sebaiknya para petani di sepanjang aliran Sungai Silugonggo tidak menanam padi yang butuh banyak air. Tetapi mengganti dengan tanaman palawija,” ucapnya.
Debit Air Menyusut Perlahan
Sementara itu, pengamat lingkungan sungai Ari Subekti mengatakan, kondisi Sungai Silugonggo yang mulai mengering diperkirakan telah berlangsung sekitar sepekan.
Menurut dia, penyusutan debit air terjadi secara bertahap, bukan tiba-tiba.
“Tidak langsung berkurang. Tapi sedikit-sedikit,” paparnya.
Ari menduga kemarau panjang menjadi salah satu faktor utama menyusutnya debit sungai.
Di sisi lain, menurutnya, masyarakat dan petani belum memiliki informasi yang memadai mengenai volume air yang tersedia di sungai.
Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika para petani di sepanjang aliran sungai mulai memasuki musim tanam tanpa terlebih dahulu memperhitungkan ketersediaan air.
“Ditambah para petani di sepanjang sungai sudah mulai melakukan musim tanam. Tidak pernah melakukan kajian terkait volume air sungai dengan kebutuhan lahan pertanian,” katanya.
Menurut Ari, kajian mengenai volume air sungai dan kebutuhan lahan pertanian penting dilakukan untuk mencegah persoalan di kemudian hari.
Hasil kajian tersebut, lanjut dia, dapat menjadi dasar dalam menentukan awal musim tanam sekaligus memperkirakan luas lahan pertanian yang mampu mendapatkan pasokan air dari Sungai Juwana.
“Artinya kajian itu kemudian hasilnya disosialisasikan bisa menjadi dasar untuk membuat kebijakan dalam menentukan awal musim tanam, dan berapa luas areal pertanian yang dapat dicover oleh air di Sungai Juwana,” jelasnya.
Tanpa perhitungan yang matang, petani berisiko mengalami kekurangan air hingga gagal panen apabila debit sungai tidak mampu memenuhi kebutuhan irigasi.
Kajian tersebut juga dinilai dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari manajemen pengurangan risiko bencana, terutama menghadapi kondisi hidrometeorologi kering.
“Banyak sekali sebetulnya manfaat hasil kajian tersebut. Termasuk untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat dampak pembuangan sampah ke sungai,” ujarnya.
Kondisi Sungai Silugonggo yang mulai mengering menjadi pengingat bagi masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air, terutama menghadapi potensi kemarau yang masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. (*/him)
Editor : Abdul Rochim