Pantai Lestari Dipenuhi Limbah Tapioka dan Sampah, Wisata Andalan Bulumanis Kidul Kian Terbengkalai

Andre Faidhil Falah • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 18:37 WIB

BERSERAKAN: Warga Desa Bulumanis Kidul, Margoyoso, Pati menunjukkan sampah di pantai desa setempat. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)
BERSERAKAN: Warga Desa Bulumanis Kidul, Margoyoso, Pati menunjukkan sampah di pantai desa setempat. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI – Kondisi Pantai Lestari di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, semakin memprihatinkan.

Destinasi wisata yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat setempat kini dipenuhi limbah industri tepung tapioka dan sampah rumah tangga yang menumpuk di sepanjang garis pantai.

Berdasarkan pantauan di lokasi, hamparan pasir sepanjang kurang lebih satu kilometer nyaris tidak terlihat karena tertutup limbah kulit ari ketela.

Baca Juga: Warga Tolak Asrama Eks Ponpes Ndholo Kusumo Pati Dibuka Kembali, Khawatir Pengelola Lama Masih Terlibat

Di sejumlah titik juga berserakan sampah plastik, botol bekas, hingga popok sekali pakai yang terbawa arus sungai dan bermuara di kawasan pantai.

Kondisi tersebut membuat daya tarik Pantai Lestari terus menurun. Wisatawan mulai enggan berkunjung sehingga berbagai fasilitas yang sebelumnya dibangun kini tampak terbengkalai. Gazebo-gazebo yang pernah menjadi tempat bersantai terlihat kosong, sebagian mengalami kerusakan, dan minim perawatan akibat sepinya pengunjung.

Kepala Desa Bulumanis Kidul, Susanto, mengatakan persoalan limbah dan sampah telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Menurutnya, setiap hari pantai menerima kiriman limbah dan sampah dari wilayah hulu melalui dua aliran sungai yang bermuara di kawasan tersebut, yakni Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan.

"Masalah ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Kami terus menerima kiriman sampah dari wilayah atas karena desa kami diapit Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan. Hampir setiap hari sampah masuk ke pantai dalam jumlah yang banyak," ujarnya, Sabtu (25/7/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah desa sebenarnya telah berupaya mengembangkan Pantai Lestari sebagai destinasi wisata.

Berbagai fasilitas seperti gazebo, penanaman pohon, hingga pengecoran akses jalan menuju pantai telah dibangun.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena persoalan pencemaran belum juga teratasi.

"Kami sudah berusaha mempercantik pantai ini karena merupakan warisan yang harus dijaga. Pohon sudah kami tanam, fasilitas juga sudah dibangun, tetapi kondisi sampahnya memang sangat luar biasa," katanya.

Menurut Susanto, persoalan paling berat berasal dari limbah industri tepung tapioka berupa kulit ari ketela yang diperkirakan telah mencapai puluhan ton.

Hingga kini limbah tersebut belum dapat diolah secara optimal dan bahkan dinilai mengganggu pertumbuhan tanaman di sekitar lokasi.

"Jumlahnya sudah puluhan ton. Sampai sekarang kami belum mampu mengolahnya. Bahkan lahan yang terkena limbah itu sulit ditanami," ungkapnya.

Pemerintah desa berharap pelaku industri tepung tapioka dapat ikut bertanggung jawab mencari solusi atas persoalan tersebut.

Menurut Susanto, kompensasi yang diterima desa sekitar Rp7 juta per tahun dinilai belum sebanding dengan dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat.

"Kami tidak ingin perusahaan ditutup. Yang kami harapkan adalah ada perhatian dan solusi. Ketika perusahaan berkembang, masyarakat yang terdampak juga seharusnya bisa merasakan manfaat dan hidup lebih layak," tegasnya.

Selain meminta peran aktif dari pihak industri, pemerintah desa juga berharap pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat turun tangan menangani persoalan sampah dan limbah yang terus mencemari kawasan pesisir tersebut.

"Harapan kami pemerintah benar-benar memberikan solusi. Ini menyangkut kehidupan masyarakat kami. Bagaimana sampah dan limbah ini bisa dikelola dengan baik, sehingga sungai dan pantai kembali bermanfaat bagi warga," pungkasnya. (adr)

Editor : Abdul Rochim
Pantai Lestari Pati Bulumanis Kidul limbah tapioka sampah pantai Pati wisata Margoyoso