PATI – Aktivitas di Galangan Kapal Berkah Mina Group, Desa Pajeksan, Kecamatan Juwana, mulai kembali bergairah setelah pemerintah menetapkan harga khusus bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi bagi nelayan sebesar Rp 15.000 per liter.
Ratusan kapal kini bersiap kembali melaut setelah sempat berhenti beroperasi akibat tingginya harga solar.
Di kawasan galangan, puluhan nelayan terlihat sibuk memperbaiki jaring di bawah naungan paranet.
Baca Juga: Penyanyi Cilik Asal Pati Krishna Budi Raih Anugerah Anak Indonesia Awards 2026
Sejumlah kapal juga mulai menjalani perbaikan dan persiapan sebelum diberangkatkan ke daerah penangkapan ikan.
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiyono, mengatakan para nelayan mulai kembali mempersiapkan kapal dan alat tangkap setelah adanya kepastian harga BBM.
"Ini sudah mulai persiapan. Para nelayan kembali memperbaiki jaring untuk melaut," ujarnya.
Menurut Eko, sebelumnya harga solar industri sempat menembus Rp 30.000 per liter.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut karena biaya operasional jauh lebih besar dibandingkan potensi pendapatan.
"Bukan tidak bisa melaut, tetapi kalau dipaksakan dengan harga BBM saat itu, hasil tangkapan tidak akan mampu menutup biaya operasional," katanya.
Dengan diberlakukannya harga BBM Rp 15.000 per liter, sekitar 350 kapal jenis purse seine yang tergabung dalam paguyubannya mulai melakukan pembenahan kapal dan alat tangkap.
Ratusan kapal tersebut dijadwalkan berangkat pada Agustus 2026 menuju Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 718 di Laut Aru, Papua.
Penurunan harga BBM juga disambut positif para pemilik kapal. Pengusaha kapal asal Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Juwari, menilai kebijakan tersebut membuat biaya operasional kembali ideal sehingga hasil penjualan ikan dapat menutup biaya produksi.
"Harga yang ditetapkan pemerintah sangat membantu pelaku perikanan. Dulu saat BBM Rp 20.000 per liter saja sudah berat, apalagi ketika sempat naik hingga Rp 30.000," ungkapnya.
Juwari mengungkapkan, lima kapal yang dimilikinya masing-masing mempekerjakan sekitar 45 anak buah kapal (ABK).
Seluruh pekerja tersebut sempat menganggur sejak Lebaran karena kapal tidak beroperasi sambil menunggu kepastian harga BBM.
Hal senada disampaikan Nakhoda KM Mekar Jaya Barokah 6, Arif. Menurutnya, hampir seluruh kapal penangkap ikan di wilayah Juwana berhenti beroperasi sejak Ramadan akibat tingginya harga BBM.
"Sejak bulan puasa kapal-kapal berhenti melaut. Teman-teman tidak memiliki pemasukan dan hanya menunggu kepastian harga BBM," tuturnya.
Kini Arif optimistis aktivitas perikanan tangkap akan kembali bergairah.
Menurutnya, harga BBM Rp 15.000 per liter sudah sebanding dengan hasil penjualan ikan seperti pindang, layang, hingga banyar yang menjadi target tangkapan di perairan Maluku hingga Maret 2027.
Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Pati Mukit mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menetapkan harga khusus BBM non-subsidi bagi nelayan pengguna kapal berkapasitas 30 hingga 200 gross ton (GT).
Menurutnya, kebijakan tersebut mampu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan.
"Dengan harga BBM Rp 15.000 per liter, beban operasional nelayan tentu jauh lebih ringan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah memberikan perhatian terhadap kesejahteraan nelayan, khususnya di Kabupaten Pati," ujarnya. )adr)
Editor : Abdul Rochim