Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Warga Gabus Pati Sulit Air Bersih Akibat Kekeringan, Harus Ngangsu Gunakan Galon

Andre Faidhil Falah • Minggu, 12 Juli 2026 | 10:56 WIB

DITARIK: Warga Gabus mencoba mengambil air sumur di kediamannya belum lama ini.  (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)
DITARIK: Warga Gabus mencoba mengambil air sumur di kediamannya belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI – Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan.

Sebanyak 96 desa di tujuh kecamatan dipetakan rawan mengalami krisis air bersih.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD menyiagakan empat unit truk tangki dan delapan tandon air yang siap digunakan untuk mendistribusikan air bersih ke desa-desa terdampak.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya mengatakan, masing-masing truk tangki maupun tandon memiliki kapasitas 5.000 liter.

Baca Juga: Instruksi Kejagung, Kejari Pati Verifikasi Operasional Dapur MBG

Seluruh armada siap dioperasikan apabila ada permohonan bantuan dari pemerintah desa.

"Kami menyiapkan empat unit truk tangki untuk mengantisipasi musim kemarau. Selain itu, BPBD juga masih memiliki sekitar delapan tandon air yang siap dipinjamkan kepada desa-desa yang membutuhkan bantuan air bersih," ujarnya.

Pemerintah desa yang membutuhkan tandon air diminta segera berkoordinasi dengan BPBD agar fasilitas tersebut dapat dipinjamkan selama musim kemarau.

"Silakan pemerintah desa yang membutuhkan tandon air berkomunikasi dengan BPBD. Nantinya akan kami pinjamkan selama musim kemarau," katanya.

Meski berbagai sarana telah disiapkan, hingga awal Juli BPBD mengaku belum menerima permohonan distribusi air bersih dari masyarakat.

"Hingga awal Juli belum ada masyarakat yang mengeluh atau mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada BPBD," jelasnya.

Berdasarkan pemetaan BPBD, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan tersebar di Kecamatan Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, sebagian Gabus, serta sebagian Kayen.

Jumlahnya mencapai 96 desa, sama seperti yang tercatat terdampak pada musim kemarau tahun sebelumnya.

"Kalau berdasarkan catatan tahun lalu, ada sekitar 96 desa di wilayah Kecamatan Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, sebagian Gabus, dan sebagian Kayen yang terdampak kekeringan," ungkap Martinus.

BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat agar cadangan air bersih tetap tersedia apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Warga Gabus Harus Mengangsu Air

Sementara itu, dampak kekeringan mulai dirasakan sebagian warga Desa Gabus, Kecamatan Gabus.

Mereka harus berjalan setiap hari sambil membawa galon untuk mengambil air bersih dari RT lain karena sumur di lingkungan tempat tinggalnya mulai mengering.

"Kekeringan, Mas. Ya begini, ambil air pakai galon," ujar Wati, salah seorang warga.

Setiap sore sekitar pukul 16.00 WIB, Wati bersama tetangganya berjalan menuju titik penyaluran air bersih.

Untuk mencapainya, mereka harus melewati jembatan sempit yang membentang di atas sungai dengan kedalaman sekitar dua hingga empat meter.

"Ngambil airnya di RT sebelah, lewat sungai dan jembatan itu," tuturnya.

Kondisi serupa dialami Komeng. Ia mengaku sudah berminggu-minggu mengangsu air karena sumber air di lingkungannya mengering.

"Wajib mengangsu air di RT sebelah. Soalnya sudah berminggu-minggu sulit mencari air," katanya.

Menurutnya, pasokan air bersih dari pemerintah maupun bantuan pihak swasta menjadi harapan utama warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kering semua. Sulit cari air. Sungainya juga sudah kering," ucapnya.

Meski begitu, Komeng menegaskan kekeringan tidak melanda seluruh wilayah Kecamatan Gabus.

Hanya beberapa RT dan dukuh yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

"Tidak semua wilayah Gabus mengalami kekeringan. Biasanya mulai dari selatan jembatan itu sudah mulai kekeringan," pungkasnya. (adr)

Editor : Abdul Rochim
#kekeringan Pati #bantuan air bersih #desa rawan kekeringan #krisis air bersih #bpbd pati