Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Tradisi Jeguran di Kolam Makam Syeh Mutamakkin Pati Dipadati Ratusan Pengunjung

Abdul Rochim • Selasa, 16 Juni 2026 | 21:06 WIB


Suasana di area kolam yang berada di belakang komplek makam Syekh Ahmad Mutamakin Kajen Senin (15/6) malam. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR PATI)
Suasana di area kolam yang berada di belakang komplek makam Syekh Ahmad Mutamakin Kajen Senin (15/6) malam. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR PATI)

PATI – Ratusan orang tampak memenuhi area Kolam Sarean atau Blumbang Sarean, sebuah kolam besar di belakang makam Syekh Ahmad Mutamakkin Desa Kajen Kecamatan Margoyoso, Senin (15/6) malam.

Mayoritas anak – anak dan remaja memenuhi area kolam tersebut. Gemerlap lampu di sekitar kawasan makam berpadu dengan udara malam yang sejuk.

Di tengah keramaian itu, sejumlah orang tampak menceburkan diri ke kolam yang telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Kajen. 

Baca Juga: Hilal Tak Terlihat, NU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026

“Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan jeguran, yakni mandi atau berendam di Kolam Sarean pada malam pergantian Tahun Baru Islam,” ungkap Muhamad Fauzian salah seorang warga desa setempat.

Bagi sebagian masyarakat, lanjutnya, tradisi ini bukan sekadar mandi bersama.

Kolam yang berada di dekat kompleks makam ulama besar tersebut dipercaya memiliki nilai spiritual tersendiri. 

Banyak warga datang untuk berdoa, melakukan introspeksi diri, sekaligus berharap memperoleh keberkahan dalam menyambut tahun yang baru.

“Di tengah masyarakat juga berkembang berbagai cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah keyakinan bahwa mandi atau berendam di Kolam Sarean pada malam Satu Suro dapat membawa kesegaran lahir dan batin, bahkan ada yang meyakini dapat membuat seseorang tampak lebih awet muda,” paparnya.

Meski demikian, kepercayaan tersebut lebih dipandang sebagai bagian dari tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Menjelang tengah malam, kawasan kolam semakin dipadati pengunjung. Suara percakapan warga bercampur dengan gemericik air yang tak pernah sepi hingga dini hari.

Sebagian pengunjung memilih berendam di kolam, sementara yang lain duduk di tepian sambil menyaksikan tradisi yang hanya berlangsung setahun sekali itu.

Di tengah suasana yang ramai, nuansa religius tetap terasa kuat. Malam Satu Suro bagi masyarakat Jawa identik dengan perenungan, doa, dan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tradisi jeguran di Kajen menjadi salah satu bentuk akulturasi budaya dan nilai keagamaan yang masih lestari hingga kini.

Keberadaan Kolam Sarean telah menjadi salah satu ikon budaya masyarakat Kajen.

Setiap malam Satu Suro, tempat ini selalu menjadi pusat perhatian warga maupun peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk merasakan langsung suasana khas pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. (aua) 

Editor : Abdul Rochim
#1 Muharram 1448 H #tradisi jeguran #Makam Syeh Mutamakkin #Kajen Pati #1 suro