Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Harga BBM Non-Subsidi Naik, Warga Pati Panik Harus Rogoh Kocek Lebih

Abdul Rochim • Rabu, 10 Juni 2026 | 19:26 WIB

LEWAT: Pengguna jalan melintasi papan harga BBM di SPBU Gajahmati. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)
LEWAT: Pengguna jalan melintasi papan harga BBM di SPBU Gajahmati. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Pati.

Sejumlah pengguna kendaraan mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk kebutuhan transportasi harian maupun perjalanan ke luar daerah.

PT Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter.

Sementara Pertamax Green 95 kini dijual Rp 17.000 per liter dari sebelumnya Rp 12.900 per liter.

Baca Juga: MBG di Pati Dihentikan Sementara, Begini Tanggapan Pedagang Kantin

Perubahan harga tersebut telah terpampang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Pati. 

Kenaikan ini langsung memengaruhi pengeluaran masyarakat yang bergantung pada BBM non-subsidi.

Hartono, pedagang keliling yang sehari-hari menggunakan sepeda motor, mengaku mulai merasakan dampaknya.

Meski masih menggunakan Pertalite, ia kini lebih sering menemui antrean panjang di SPBU karena sebagian pengguna beralih ke bahan bakar subsidi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat waktu pengisian BBM menjadi lebih lama.

Ia juga mengkhawatirkan kemungkinan stok Pertalite kosong sehingga terpaksa membeli Pertamax dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Keluhan serupa disampaikan Wibowo, pengguna kendaraan yang direkomendasikan menggunakan Pertamax.

Ia mengaku tidak berani beralih ke jenis BBM lain karena khawatir berdampak pada performa dan kondisi mesin kendaraan.

Kenaikan harga membuat biaya perjalanan luar kota meningkat signifikan.

Jika sebelumnya perjalanan untuk kebutuhan pekerjaan menghabiskan sekitar Rp 200 ribu untuk pembelian BBM, kini pengeluarannya diperkirakan mencapai lebih dari Rp 350 ribu.

Dampak serupa juga dirasakan pengguna kendaraan bermesin diesel.

Galeh, warga Pati Kota, memperkirakan biaya bahan bakar untuk perjalanan ke Demak dan Semarang kini bisa meningkat ratusan ribu rupiah dibanding sebelumnya.

Sebagian pengguna kendaraan mengaku tidak memiliki banyak pilihan karena spesifikasi mesin kendaraan mengharuskan penggunaan BBM tertentu.

Mereka khawatir penggunaan bahan bakar dengan kualitas lebih rendah justru menimbulkan kerusakan dan biaya perawatan yang lebih besar.

Masyarakat berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga energi agar kenaikan biaya transportasi tidak semakin membebani kondisi ekonomi warga. (adr)

Editor : Abdul Rochim
#harga BBM naik #Pertamax 2026 #BBM non subsidi #biaya transportasi meningkat #warga pati