PATI – Pemerintah Kabupaten Pati terus mengupayakan optimalisasi pembangunan bendung karet di aliran Sungai Juwana sebagai solusi mengatasi persoalan kekurangan air yang kerap dialami petani saat musim kemarau.
Infrastruktur tersebut diproyeksikan mampu menyuplai kebutuhan irigasi bagi sekitar 2.500 hektare lahan persawahan di sejumlah wilayah.
Kepala Seksi Pembangunan Pengairan Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUTR Kabupaten Pati, Upadito, mengatakan bendung karet dirancang untuk mendukung kebutuhan air pertanian di Kecamatan Juwana, Jakenan, dan Gabus yang selama ini masih menghadapi keterbatasan pasokan air saat musim kemarau.
Baca Juga: Sembilan SPPG di Pati Ditutup, Perbaikan IPAL Jadi Syarat Dapur MBG
Menurutnya, keberadaan bendung karet diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian karena petani memiliki peluang untuk menambah intensitas tanam.
Jika sebelumnya sebagian lahan hanya dapat ditanami sekali dalam setahun, ke depan berpotensi meningkat menjadi dua hingga tiga kali musim tanam.
“Lahan pertanian yang akan mendapat manfaat berada di wilayah Juwana, Jakenan, dan Gabus. Dengan adanya bendung karet, petani berpotensi meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun,” ujarnya.
Saat ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati masih berkoordinasi dengan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air untuk memaksimalkan perencanaan serta pemanfaatan bendung agar memberikan manfaat optimal bagi sektor pertanian.
Upadito menjelaskan, sistem kerja bendung karet berbeda dengan bendungan atau waduk.
Infrastruktur tersebut tidak berfungsi menampung air, melainkan menaikkan muka air sungai dengan cara mengembangkan atau menaikkan badan bendung saat musim kemarau.
Fungsi utama bendung karet adalah menahan intrusi air laut pasang ke wilayah hulu sungai sekaligus menjaga ketersediaan air tawar yang berasal dari sejumlah anak sungai di kawasan Pegunungan Kendeng Utara dan Lereng Muria.
Sebaliknya, saat musim hujan, bendung akan dikempiskan agar aliran sungai tetap lancar dan tidak menghambat debit air yang meningkat.
Pada periode tersebut, kebutuhan air pertanian umumnya sudah tercukupi oleh curah hujan.
Meski demikian, Upadito menegaskan bahwa dalam kondisi tertentu petani tetap membutuhkan pompa air, terutama untuk mengalirkan air ke lahan yang memiliki elevasi lebih tinggi.
Berdasarkan hasil survei lokasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai, bendung karet direncanakan dibangun di Dukuh Biteng, Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, tepatnya di bagian hulu Jembatan Ngantru.
Dari lokasi tersebut, pasokan air pada musim kemarau diperkirakan dapat menjangkau wilayah yang lebih luas, mulai Kecamatan Gabus hingga Kecamatan Pati, Margorejo, dan Kayen.
Pemerintah berharap pembangunan bendung karet dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan air sektor pertanian sekaligus mendukung produktivitas petani di Kabupaten Pati.