Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

ANEH! Kemarau, Delapan Desa di Pati Terendam Banjir bahkan BMKG Prediksi Kekeringan

Abdul Rochim • Senin, 25 Mei 2026 | 18:44 WIB
AYAMNYA NAIK GENTING: Warga Desa Ketitangwetan, Batangan, Pati, beraktivitas di tengah banjir di desanya. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PAT)
AYAMNYA NAIK GENTING: Warga Desa Ketitangwetan, Batangan, Pati, beraktivitas di tengah banjir di desanya. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI – Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kabupaten Pati sejak Minggu (24/5) malam hingga kemarin dini hari. Imbasnya menyebabkan banjir di sejumlah wilayah.

Sedikitnya delapan desa di tiga kecamatan terdampak genangan air. Meliputi Kecamatan Batangan, Wedarijaksa, dan Gabus.

Sejumlah warga tetap beraktivitas di genangan banjir yang merendam permukiman di Desa Ketitangwetan, Batangan, kemarin. Meski banjir masih menggenangi rumah dan jalan desa.

Baca Juga: Dorong Investasi dan Pelayanan Publik, Pemkab Pati Optimistis Capai Target 2026

Di Desa Ketitangwetan, banjir merendam ratusan rumah warga. Air bahkan masuk ke dalam rumah dengan ketinggian mencapai sekitar 40 sentimeter.

Selain permukiman, akses jalan utama desa juga tergenang, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.

Salah satu warga Desa Ketitangwetan Ismail mengatakan, banjir mulai masuk ke permukiman sekitar pukul 03.00, setelah hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah Pati.

Warga menduga banjir semakin parah akibat tanggul sungai yang jebol dan tidak mampu menahan debit air.

Ia menyebut, sekitar 400 rumah terendam banjir dengan total lebih dari 450 kepala keluarga atau sekitar 1.000 jiwa terdampak. Ini juga menjadi banjir kedua yang terjadi dalam tiga hari terakhir.

Kepala Desa Ketitangwetan Ali Muntoha menambahkan, tingginya curah hujan menyebabkan debit air sungai meningkat drastis. Hingga meluap ke permukiman.

“Banjir kali ini, kedua kalinya dalam tiga hari terakhir. Dengan ketinggian air mencapai 40 hingga 60 sentimeter,” katanya.

Terpisah, Kepala BPBD Pati Martinus Budi Prasetya mengatakan, di Kecamatan Batangan banjir melanda Desa Ketitangwetan, Ngening, dan Raci.

Kemudian di Kecamatan Wedarijaksa, genangan terjadi di Desa Jontro, Ngurenrejo, Ngurensiti, dan Panggungroyom. Sementara di Kecamatan Gabus, banjir merendam Dukuh Paras dan Desa Tanjunganom.

“Saat ini, Jontro, Ngurenrejo, dan Ngurensiti masih ada genangan dengan ketinggian air bervariasi antara 10 sampai 30 sentimeter di permukiman maupun persawahan,” ujarnya.

Di Kecamatan Wedarijaksa, tinggi genangan berkisar antara 10 hingga 30 sentimeter.

Sementara di Kecamatan Batangan, banjir mencapai ketinggian 30 sentimeter hingga satu meter dan merendam permukiman maupun area persawahan.

Sementara itu, banjir di Desa Tanjunganom, Gabus, memiliki ketinggian sekitar 30 hingga 50 sentimeter.

Genangan air juga menyebabkan arus lalu lintas di jalur penghubung Kecamatan Gabus menuju Tambakromo tersendat kemarin pagi.

Martinus menjelaskan, banjir di Kecamatan Wedarijaksa merupakan kiriman air dari kawasan Pegunungan Muria.

Sedangkan banjir di Kecamatan Batangan dan Gabus berasal dari Pegunungan Kendeng.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir membuat aktivitas masyarakat terganggu.

Warga berharap, pemerintah segera melakukan penanganan permanen, mengingat wilayah tersebut, disebut sudah mengalami banjir hingga 10 kali dalam enam bulan terakhir.

Martinus mengaku, kondisi cuaca saat ini sulit diprediksi.

Sebelumnya, BPBD telah bersiap menghadapi musim kemarau dan potensi kekeringan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

Namun hingga akhir Mei, hujan deras masih terjadi dan memicu banjir di Kabupaten Pati. (adr/him/lin)

Editor : Abdul Rochim
#prediksi BMKG #musim kemarau #banjir pati #kemarau