PATI – Kompleks bangunan yang dikelola Ashari di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati mengalami perubahan besar dalam tiga dekade terakhir.
Bermula dari rumah warisan keluarga pada era 1990-an, lokasi tersebut kini berkembang menjadi kawasan pendidikan dan asrama yang cukup luas.
Warga sekitar menyebut, sekitar tahun 1995 bangunan itu masih berupa rumah sederhana yang dibagi bersama saudaranya.
Baca Juga: Di Balik Sulitnya Mencekal kiai Cabul Ashari Pati, Miliki Dekengan Kuat dan Aliran Dana Besar
Bagian timur ditempati adiknya, Yanto, sementara sisi barat dan area belakang mulai digunakan Ashari untuk mengumpulkan santri dan menggelar pengajian.
Pada awalnya, aktivitas di lokasi tersebut lebih dikenal sebagai pengajian rumahan, bukan pondok pesantren resmi.
Namun seiring waktu, kegiatan berkembang hingga mencakup praktik pengobatan alternatif dan ritual spiritual seperti manaqiban.
Warga menuturkan, salah satu sumber pemasukan saat itu berasal dari penjualan minyak khusus yang digunakan sebagai syarat “mahar” bagi masyarakat yang meminta bantuan spiritual.
Harga minyak tersebut disebut mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per botol pada masa itu.
Bertambahnya pengikut membuat bangunan terus diperluas, termasuk pembangunan area asrama santri perempuan di bagian belakang rumah.
Sejumlah warga mulai menaruh curiga karena muncul ajaran dan perilaku yang dianggap tidak lazim.
“Awal mula perilaku aneh itu sebenarnya sudah terlihat sejak dulu, tetapi warga saat itu tidak berani bersuara,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.
Kini, kompleks tersebut berdiri megah berbentuk huruf U dan dilengkapi fasilitas pendidikan formal seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Meski demikian, sebagian warga mempertanyakan legalitas dan keterbukaan yayasan karena dinilai memiliki pola yang tertutup.
Baca Juga: Tersangka Kiai Cabul Ashari Ponpes Ndholo Kusumo Pati Dipindah ke Polda Jateng
Warga juga mengungkapkan Ashari sempat meninggalkan desa setelah muncul isu asusila pada 2008.
Namun beberapa tahun kemudian ia kembali dan melanjutkan pembangunan kompleks dengan kondisi ekonomi yang dinilai lebih kuat.
Selain dikenal sebagai pengajar kitab kuning, Ashari disebut membangun legitimasi spiritual melalui klaim sebagai keturunan tokoh setempat, Mbah Ndholo Kusumo. Klaim tersebut diyakini memperkuat pengaruhnya di kalangan pengikut.
Menurut warga, Ashari dikenal memiliki kemampuan mengajar kitab klasik yang baik pada awal kemunculannya.
Ia disebut mampu menjelaskan pembelajaran kitab dengan metode yang mudah dipahami santri.
Namun seiring perjalanan waktu, muncul berbagai narasi mistis dan klaim spiritual yang dinilai sulit dibuktikan secara ilmiah.
Warga menduga doktrin tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pengikutnya sangat patuh terhadap dirinya.(adr/him)