PATI – Pembangunan fisik kompleks bangunan yang dikelola oleh Ashari di Desa Tlogosari menunjukkan perubahan drastis.
Awalnya sebuah rumah hunian biasa menjadi fasilitas pendidikan yang cukup luas.
Transformasi ini bermula sekitar tahun 1995, di mana bangunan tersebut awalnya hanya merupakan rumah sederhana yang dibagi dengan saudaranya.
Bagian timur dihuni oleh adiknya, Yanto. Sementara bagian barat dan lahan di belakangnya digunakan Ashari untuk mengumpulkan para santri.
Baca Juga: LPSK Turun Tangan: Korban Pencabulan di Ndholo Kusumo Pati Resmi Ajukan Perlindungan
Awalnya, tempat tersebut tidak bisa disebut sebagai pondok pesantren resmi. Kegiatan yang dilakukan lebih menyerupai pengajian rumahan.
Namun, praktik yang dilakukan di dalamnya perlahan mulai bergeser.
Selain mengajar ngaji, Ashari membuka praktik pengobatan alternatif. Dari ritual pembersihan rumah atau manaqiban.
Salah satu sumber pendapatan utamanya kala itu adalah penjualan minyak khusus sebagai syarat "mahar" bagi warga yang mencari bantuan spiritual.
Harga sebotol minyak tersebut bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, yang pada tahun 90-an merupakan jumlah yang sangat besar.
Seiring bertambahnya pengikut, bangunan tersebut mulai dikembangkan untuk menampung santri perempuan yang menginap di bagian belakang rumah.
Warga mencatat bahwa perkembangan ini dibarengi dengan munculnya ajaran-ajaran yang dianggap "nyeleneh" (menyimpang).
Salah satu pemicu kecurigaan warga adalah adanya perilaku tidak wajar.
Seperti tindakan mencium pipi santri perempuan dengan alasan hubungan antara bapak dan anak.
"Awal mula bibit-bibit perilaku aneh itu sudah ada sejak dulu, tapi warga saat itu tidak berani bersuara," jelas narasumber.
Kini, bangunan tersebut telah berkembang pesat. Di lahan warisan yang tadinya sempit, sekarang berdiri bangunan megah berbentuk huruf "U".
Baca Juga: NGERI! Korban Baru Kiai Cabul Ashari Pati Terus Bertambah
Di dalamnya terdapat fasilitas pendidikan formal seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang masih terus dikembangkan bangunannya.
Ironisnya, meski secara fisik terlihat seperti lembaga pendidikan besar, warga meragukan perizinan yayasan tersebut karena polanya yang sangat tertutup dan eksklusif.
Kata dia, sejarah mencatat bahwa Ashari sempat diusir oleh warga pada 2008 karena isu asusila.
Namun setelah beberapa tahun "minggat" ke luar daerah, ia kembali lagi dengan kekuatan ekonomi yang lebih besar untuk membangun kompleks yang kini berdiri di tengah desa tersebut.
Legitimasi Sosial dengan Klaim Keturunan Mbah Ndholo Kusumo
Di balik nama Ashari tersimpan klaim sepihak untuk memperkuat legitimasi spiritual.
Bukan sekadar pengajar kitab, ia mengklaim dirinya sebagai titisan darah biru spiritual, yakni keturunan langsung dari tokoh di desanya, Mbah Ndholo Kusumo melalui garis silsilah Hasan.
Sosok Ashari, pimpinan sebuah kelompok keagamaan di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, kini menjadi pusat perhatian masyarakat luas, setelah kasusnya ramai beberapa waktu ini.
Penelusuran mengenai rekam jejak masa lalunya mengungkap perpaduan antara kecerdasan akademis kitab kuning dan klaim spiritualitas yang dianggap kontroversial oleh warga sekitar.
Berdasarkan keterangan warga setempat yang enggan disebut namanya, sosok Ashari memulai kiprahnya sebagai pengajar agama pada awal era 1990-an dengan memanfaatkan tanah warisan orang tuanya di desa tersebut.
Pada masa awal kemunculannya, Hari (nama sapaan untuk warga setempat, Red) dikenal sebagai sosok yang sangat cakap dalam mengajar kitab-kitab klasik, salah satunya adalah kitab Imriti.
Beberapa mantan muridnya mengakui bahwa metode pengajaran Ashari sangat efektif.
Ia mampu menjelaskan penerapan kaidah bahasa Arab ke dalam pembacaan kitab suci dengan cara yang lebih mudah dipahami dibandingkan pengajaran formal di sekolah-sekolah saat itu.
"Cara membaca kitabnya itu sangat 'nyantol' (melekat). Murid-murid merasa penjelasannya lebih masuk logika daripada saat mereka belajar di sekolah umum," ujar seorang warga setempat.
Riwayat pendidikannya pun tidak sembarangan. Di wilayah lokal, ia berguru kepada Kyai dari Trangkil.
“Itu seorang tokoh yang dikenal memiliki ilmu agama yang mumpuni serta kedisiplinan yang tinggi dalam mengajar pengajian dan tarekot,” imbuhnya.
Selain itu, dalam urusan spiritual yang lebih dalam, Ashari memiliki jalur tarekat yang bersambung hingga ke Jawa Timur, tepatnya dari daerah Surabaya yang disebut-sebut sebagai jalur Jati Romo.
Namun, seiring berjalannya waktu, profil pendidikannya mulai dibumbui dengan klaim-klaim mistis yang tidak dapat diverifikasi secara ilmiah.
Baca Juga: Di Balik Sulitnya Mencekal kiai Cabul Ashari Pati, Miliki Dekengan Kuat dan Aliran Dana Besar
Lanjut dia, Ashari mulai membangun narasi bahwa dirinya adalah keturunan langsung dari tokoh setempat, Mbah Ndolo Kusumo.
Ia mengklaim sebagai garis cabang dari anak Mbah Ndholo yang bernama Hasan.
”Saya punya bukunya Mbah Ndholo itu. Garis keturunannya ada. Tapi Ashari ini klaim sepihak,” tandasnya
Klaim ini digunakan untuk memperkuat posisinya di mata pengikutnya, seolah ia memiliki legitimasi darah biru spiritual yang menyambung hingga ke raja-raja Brawijaya.
Meski warga menyebut klaim ini hanya sepihak dan berdasarkan metode batiniah tanpa bukti otentik.
Narasi inilah yang membuat namanya moncer dan dihormati secara berlebihan oleh para pengikut fanatiknya sejak masa muda.
”Pada kedoktrin gara-gara itu. Bahkan santrinya bilangin kalau melihatnya melakukan hal yang aneh-aneh jangan ditegur. Dari situlah doktrin pencabulan itu,” ucapnya.
Backingan dan Aliran Dana Ratusan Juta Per Bulan
Aktivitas pembangunan fasilitas pendidikan milik Ashari di Desa Tlogosari kembali menjadi sorotan warga.
Keberadaan pesantren tersebut memunculkan kecurigaan terkait sumber pendanaan hingga dugaan adanya perlindungan dari pihak berpengaruh.
Warga menilai, meski sempat mendapat penolakan dan diterpa berbagai isu skandal asusila di masa lalu, kelompok tersebut tetap mampu bertahan dan terus berkembang.
Sejumlah warga menduga ada aliran dana besar yang menopang operasional pondok pesantren tersebut.
Informasi yang beredar menyebutkan donasi rutin dari para pengikut mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan.
Salah satu sumber dana disebut berasal dari para pengikut yang bekerja di luar daerah, terutama di Kalimantan.
Mereka dikabarkan rutin mengirimkan uang untuk mendukung kegiatan pondok.
Selain donasi, warga juga mengungkap adanya pengikut yang menyerahkan aset pribadi seperti sertifikat tanah karena pengaruh doktrin kepatuhan penuh kepada pimpinan pondok.
Menurut warga, kondisi tersebut membuat kehidupan pimpinan pondok terlihat jauh lebih mapan dibanding sebagian besar pengikutnya.
Tak hanya soal pendanaan, warga juga menduga adanya dukungan dari sejumlah tokoh berpengaruh yang membuat aktivitas kelompok tersebut tetap berjalan.
Nama oknum aparat hingga tokoh lokal disebut-sebut memiliki kedekatan dengan yayasan tersebut.
Warga juga menyinggung adanya jaringan donasi dari kalangan pengusaha perikanan di wilayah Juwana yang disebut membantu pembangunan fasilitas pendidikan, termasuk sekolah baru di sekitar lokasi pondok.
Keberadaan jaringan tersebut dinilai membuat aktivitas pondok seolah sulit tersentuh meski warga beberapa kali mengeluhkan dugaan penyimpangan dan kasus pelecehan.
Selain itu, kelompok tersebut juga disebut pernah memiliki media dakwah berupa Radio Ndolo Kusumo yang digunakan untuk menyiarkan kajian keagamaan pada waktu tertentu. (adr/him)
Editor : Abdul Rochim