PATI - Sebanyak 48 santri berstatus yatim, piatu, dan yatim piatu di Ponpes Ndholo Kusumo Pati dipulangkan ke keluarga masing-masing.
Pemulangan santri ini setelah terungkap kasus pencabulan diduga dilakukan pengasuh atau kiai Ashari terhadap sejumlah santriwati.
Namun, sebagian santri masih berada di naungan ibu pengasuh karena tengah mengikuti ujian madrasah, khususnya siswa kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Agama Kabupaten Pati, jumlah anak yatim tercatat sebanyak 34 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 17 santri laki-laki dan 17 santri putri.
Baca Juga: Komnas HAM Sesalkan Lambatnya Penanganan Kasus Pencabulan di Ponpes Ndholo Kusumo Pati
Sementara itu, anak piatu tercatat sebanyak tujuh orang, dengan rincian tiga laki-laki dan empat putri.
Adapun kategori yatim piatu berjumlah tujuh orang, terdiri dari satu laki-laki dan enam putri.
Secara keseluruhan, jumlah santri yang masuk kategori yatim, piatu, dan yatim piatu mencapai 48 orang.
Rinciannya yakni 21 laki-laki dan 27 putri. Sedangkan santri yang masih memiliki orang tua tercatat sebanyak 198 anak, terdiri dari 117 laki-laki dan 81 putri.
Total keseluruhan santri yang terdata mencapai 246 anak, dengan komposisi 138 laki-laki dan 108 putri.
Kepala Kementerian Agama, Ahmad Syaikhu mengatakan para santri sudah mulai dipulangkan ke keluarga masing-masing sejak 2 hingga 3 Mei lalu.
Menurutnya, santri yang tidak memiliki orang tua juga pulang. Mereka dijemput oleh keluarga terdekat
“Seperti pakde, budhe, paman, maupun bibi,” ucapnya.
Meski demikian, beberapa santri masih berada di bawah pendampingan ibu pengasuh dari pihak pondok pesantren.
Hal itu karena mereka masih menjalani ujian madrasah, khususnya santri kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Untuk sementara, para santri mengikuti kegiatan belajar secara daring di bawah pengawasan Kemenag. Mereka belajar dari rumah masing-masing dengan pendampingan pengasuh.
Pihaknya tengah mengupayakan dukungan pendidikan bagi santri jenjang SMP.
Di samping itu, pihaknya juga menyiapkan pondok baru untuk para santri yang ingin melanjutkan pendidikan
“Kami berkolaborasi dengan PCNU, khususnya RMI, untuk membantu menaungi pendidikan jenjang SMP para santri,” pungkasnya.
Dia menambahkan, pekan depan akan dilakukan asesmen kepada beberapa santri. Hal ini untuk memastikan bagaimana kondisi para santri.
“Kami dengan Dinsos nanti. Kami berupaya untuk memastikan psikologis dari para santri. Juga melakukan beberapa pemulihan,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Pati Hartono menambahkan, pihaknya telah melakukan pendampingan intensif kepada korban sejak laporan pertama kali diterima pada tahun 2024.
Pendampingan tersebut meliputi pengawalan proses hukum hingga pemulihan kondisi mental korban.
"Kami mendampingi korban sesuai tupoksi, mulai dari pendampingan pekerja sosial (peksos) saat proses BAP di kepolisian, hingga pendampingan psikologis dan pemberian bantuan pemulihan," ujar Hartono.
“Kalau satu orang korban yang melapor ke UPTD PPA sudah dilakukan pendampingan psikologis sejak pertama melapor. Hingga sekarang tetap kontak-kontakan,” tambahnya
Menanggapi viralnya kasus ini, Dinsos Pati bergerak cepat dengan membuka layanan pengaduan dan posko selama 1x24 jam.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi adanya korban lain yang belum berani bersuara agar segera mendapatkan penanganan medis maupun hukum.
"Kami membuka posko untuk menampung laporan jika ada korban lain agar segera bisa kami tindak lanjuti dan beri pendampingan," tambahnya. (adr)
Editor : Abdul Rochim