PATI – Banjir yang melanda Kabupaten Pati pada awal 2026 menyisakan persoalan baru berupa penumpukan sampah di bantaran sungai.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Pati melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) langsung melakukan pembersihan di sejumlah aliran sungai.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUTR Pati, Widyotomo Kusdiyanto, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk menormalkan aliran air agar tetap lancar serta mengurangi risiko banjir susulan.
Baca Juga: Plt Bupati Pati Siap Jadi Ketua DPC PKB, Akui sebagai Kader “Naturalisasi”
Ia menegaskan, tumpukan sampah yang tidak segera ditangani bisa menghambat aliran air, terutama saat curah hujan tinggi, sehingga berpotensi memicu luapan ke permukiman dan jalan.
Pembersihan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana hingga pemerintah desa setempat.
Sampah yang diangkut, baik organik maupun nonorganik, dibawa menggunakan armada DPUTR ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) agar tidak kembali mencemari sungai.
Selain itu, DPUTR juga berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menyiapkan lokasi pembuangan sementara yang aman dan tidak berisiko terdampak banjir, sehingga penanganan sampah lebih terorganisir.
Dalam empat bulan terakhir, pembersihan telah dilakukan di sejumlah titik, di antaranya Sungai Sani, Sungai Simo, Sungai Kersulo, Sungai Godi, Sungai Sentul, hingga Bendungan Tambahmulyo di Kecamatan Jakenan.
Sungai Sani menjadi prioritas karena kerap meluap di kawasan perkotaan, sementara Sungai Simo di jalur Pati–Juwana sering memicu genangan di permukiman.
Sungai Kersulo di kawasan Alugoro dinilai rawan menyebabkan kemacetan saat banjir, sedangkan Sungai Godi di Desa Ngurensiti sempat tersumbat akibat tumpukan sampah di bawah jembatan.
Sampah yang terbawa banjir umumnya berupa material alami seperti akar, dahan pohon, enceng gondok, kayu, hingga bambu.
Di wilayah selatan, normalisasi Sungai Sentul di Desa Glonggong masih terus berlangsung. Bahkan, tumpukan sampah di Bendungan Tambahmulyo sempat berpotensi merusak konstruksi akibat tekanan air yang tinggi.
Untuk mempercepat penanganan, DPUTR menyiagakan alat berat seperti ekskavator dan truk pengangkut, serta menjadwalkan pembersihan sungai secara rutin. (adr/him)