Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Koperasi Merah Putih di Pati Mulai Jalan, Tapi Belum Maksimal, Begini Kondisinya

Abdul Rochim • Selasa, 14 April 2026 | 19:27 WIB
BELUM BUKA: Kopdes Banyutowo, Dukuhseti tertutup rapat pada Selasa (14/4). (NUR ANWAR UNTUK RADAR PATI)
BELUM BUKA: Kopdes Banyutowo, Dukuhseti tertutup rapat pada Selasa (14/4). (NUR ANWAR UNTUK RADAR PATI)

PATI – Program pembangunan Koperasi Merah Putih di Kabupaten Pati terus berjalan, namun belum sepenuhnya optimal.

Dari ratusan koperasi yang direncanakan, baru sebagian kecil yang memiliki produk unggulan dan mampu beroperasi secara maksimal.

Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pati, dari total 406 desa dan kelurahan, baru sekitar 32 titik koperasi yang telah terbangun.

Baca Juga: Atap Ambrol, SDN Mencon Pati Nyaris Tak Layak, Siswa Terpaksa Mengungsi

Sementara ratusan lainnya masih dalam tahap perencanaan maupun proses awal pembangunan.

Secara kelembagaan, seluruh koperasi tersebut telah berbadan hukum.

Namun dalam praktiknya, mayoritas masih menjalankan layanan terbatas, seperti simpan pinjam, layanan laku pandai, hingga penjualan kebutuhan dasar seperti sembako dan gas.

Hal ini menunjukkan peran koperasi sebagai penggerak ekonomi desa belum berjalan optimal.

Beberapa wilayah mulai menunjukkan perkembangan lebih maju, seperti di Banyutowo, Pakis, dan Kutoharjo.

Di Banyutowo, misalnya, koperasi didukung fasilitas lengkap seperti pabrik es, cold storage, tempat penyimpanan ikan, hingga lokasi pelelangan ikan yang terintegrasi dengan aktivitas nelayan.

“Di Banyutowo dibangun kampung nelayan dengan fasilitas lengkap, mulai dari pabrik es, cold storage, tempat penyimpanan ikan, hingga pelelangan. Ini sangat bagus karena terintegrasi,” ujarnya.

Sementara itu, Koperasi Desa Merah Putih Pakis, Kecamatan Tayu, telah menyediakan berbagai layanan, mulai dari pembayaran Pajak PBB, listrik, pembelian token listrik, pulsa, pembayaran BPJS, transfer uang, setor-tarik tunai, hingga berbagai layanan multipayment.

Adapun di Kutoharjo, koperasi menyediakan kios pangan murah dengan paket berisi 2,5 kilogram beras, 1 kilogram gula, 1 liter minyak goreng, 1 kilogram telur, serta bonus bumbu, yang dijual seharga Rp 90 ribu.

Meski demikian, kondisi tersebut belum merata. Sebagian besar koperasi lainnya masih terbatas pada layanan simpan pinjam dan belum menyediakan layanan sembako maupun gas secara luas.

Baca Juga: Jalan Longsor Purwokerto–Maitan di Pati Diusulkan ke BNPB, Warga Masih Nekat Melintas

“Belum semuanya,” tandasnya.

Terkait kebutuhan operasional, koperasi juga dinilai membutuhkan dukungan kendaraan roda tiga untuk menunjang distribusi dan aktivitas usaha, khususnya bagi koperasi yang sudah memiliki gerai secara penuh.

Warga Dukuhseti, Nur Anwar, mengungkapkan bahwa masih banyak koperasi yang belum beroperasi penuh dan hanya buka-tutup.

“Masih terbatas pada simpan pinjam. Kemudian ada yang menunggu peresmian,” ujarnya.

Ia menambahkan, koperasi saat ini masih dalam tahap pengembangan, mulai dari perekrutan anggota hingga penyediaan produk.

“Tiap warga ditawari menjadi anggota, biasanya melalui RT,” imbuhnya.

Menurutnya, penguatan program koperasi tidak cukup hanya pada pembentukan dan legalitas. Perlu pendampingan berkelanjutan, pengembangan usaha, serta dukungan sarana dan prasarana agar koperasi benar-benar mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Koperasi itu mendapatkan pinjaman modal. Kalau tidak punya produk unggulan, tentu kesulitan mengembalikan pinjaman dari pemerintah pusat,” pungkasnya. (adr/him)

Editor : Abdul Rochim
#Ekonomi desa #koperasi merah putih pati #kopdes pati #program koperasi #umkm pati