PATI – Nelayan di kawasan Juwana mulai merasa khawatir terhadap potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk melaut.
Kekhawatiran ini dipicu ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada harga energi global.
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Budiono, mengungkapkan bahwa hingga saat ini nelayan memang belum merasakan dampak langsung karena sebagian belum beraktivitas melaut.
Baca Juga: 750 Kapal Padati Sungai Juwana Pati, Ancaman Banjir dan Kemacetan Perairan Meningkat
Namun, mereka tetap waswas apabila harga BBM mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
“Untuk saat ini belum ada dampak yang dirasakan karena nelayan belum melaut. Tapi kami khawatir kalau sampai harga BBM naik akibat konflik di Timur Tengah,” ujar Budiono.
Menurutnya, kebutuhan BBM menjadi komponen terbesar dalam biaya operasional kapal.
Sekitar 70 persen biaya melaut digunakan untuk membeli bahan bakar, sehingga kenaikan harga sedikit saja sudah sangat memberatkan nelayan.
Baca Juga: PKL Picu Kemacetan, Pemkab Pati Tegaskan Alun-alun Simpang Lima Tetap Zona Merah
Kekhawatiran semakin meningkat setelah beredar kabar bahwa harga BBM industri berpotensi naik hingga Rp 1.500 per liter.
Meski belum ada kepastian resmi, informasi tersebut cukup membuat nelayan resah.
Budiono menyebut, harga BBM industri saat ini berkisar Rp 11.000 per liter, angka yang dinilai cukup tinggi bagi nelayan.
Ia menambahkan, pada masa pandemi Covid-19 lalu harga BBM sektor marine bahkan sempat mencapai Rp 18.000 hingga Rp 21.000 per liter, dengan kualitas yang dinilai tidak sebanding.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan harga khusus BBM bagi nelayan agar aktivitas melaut tetap berjalan dan ekonomi pesisir tetap terjaga.
“Kami berharap ada harga khusus sekitar Rp 8.000 per liter agar nelayan tetap bisa melaut,” jelasnya.
Di wilayah Juwana sendiri terdapat sekitar 350 nelayan kapal jenis purse seine yang tergabung dalam paguyuban tersebut.
Jika harga BBM terus meningkat, bukan tidak mungkin aktivitas melaut akan berkurang bahkan terhenti.
Nelayan berharap pemerintah segera mengambil langkah antisipasi guna menjaga stabilitas harga BBM di tengah ketidakpastian situasi global. (aua)
Editor : Abdul Rochim