PATI - Momen perayaan Hari Raya Nyepi tahun 2026 di Kabupaten Pati berbarengan dengan takbir menyambut idulfitri. Jaga toleransi, umat Hindu di Jaken juga bakti sosial.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Pati, I Ketut Tutut, menjelaskan bahwa rangkaian Nyepi telah dimulai sejak 1 Maret 2026.
Saat itu, umat Hindu di Pura Segara Bhuana, Desa Tegalarum, Kecamatan Jaken, menggelar kegiatan saka bhoga sevanam.
Baca Juga: Nyepi di Desa Plajan Jepara: Hening Total, Tanpa Takbir Keliling Cermin Toleransi Antarumat Beragama
Yakni aksi sosial berupa pembagian takjil kepada umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Dalam kegiatan tersebut, umat Hindu membagikan ratusan paket makanan dan minuman kepada masyarakat sekitar.
Aksi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus bentuk toleransi antarumat beragama dalam menyambut Hari Raya Nyepi.
Selanjutnya, pada 15 Maret 2026, umat Hindu melaksanakan ritual Melasti di Pantai Bandengan, Kabupaten Jepara.
Upacara ini bertujuan untuk menyucikan diri manusia (bhuana alit) serta alam semesta (bhuana agung), sekaligus membuang energi negatif dengan memohon air suci dari sumber kehidupan, seperti laut.
Memasuki Rabu, 18 Maret 2026, umat Hindu melaksanakan tawur agung atau pecaruan.
Ritual ini dilakukan untuk membersihkan dan menetralisir lingkungan dari pengaruh buruk, sehingga pelaksanaan Nyepi dapat berlangsung dalam suasana suci dan hening.
Ibadah tersebut digelar di sejumlah pura, seperti Pura Kertha Bhuana dan Pura Segara Bhuana, serta sebagian umat juga beribadah di Candi Prambanan sebagai pusat kegiatan keagamaan Hindu di Jawa Tengah.
Puncak perayaan Nyepi jatuh pada 19 Maret 2026. Sejak pagi hari, umat Hindu mulai menjalankan catur brata penyepian, yakni empat pantangan yang meliputi tidak bepergian (amati lelungan), tidak bersenang-senang (amati lelanguan), tidak menyalakan api (amati geni), dan tidak bekerja (amati karya).
Selama pelaksanaan tersebut, umat Hindu berdiam diri di rumah untuk beribadah dan melakukan introspeksi diri.
Momen ini dimanfaatkan untuk mengevaluasi sikap, perilaku, serta memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.
Menariknya, perayaan Nyepi tahun ini bertepatan dengan malam takbir Idulfitri 1447 Hijriah. Kondisi ini semakin memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat, di mana umat Hindu menjalankan ibadah dalam keheningan, sementara umat Muslim merayakan malam takbiran.
I Ketut Tutut menegaskan bahwa perbedaan tersebut justru menjadi anugerah yang mempererat kerukunan antarumat beragama. Ia berharap, semangat saling menghormati dan menjaga ini terus terjaga di tengah keberagaman masyarakat. (adr)
Editor : Abdul Rochim