PATI – Dugaan praktik setoran uang pelicin pengisian calon perangkat desa (caperdes) di Kabupaten Pati kembali mencuat.
Sejumlah calon perangkat desa disebut rela menjual mobil hingga menggadaikan sawah demi mendapatkan jabatan.
Nilai setoran mencapai sekitar Rp125 juta, sementara kasus ini masih didalami oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Polemik dugaan praktik setoran dalam pengisian perangkat desa di Kabupaten Pati masih terus bergulir.
Hingga kini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan masih mendalami kasus tersebut.
Termasuk menelusuri peran pihak-pihak yang terlibat serta mengumpulkan bukti tambahan.
Salah seorang calon perangkat desa yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan, hingga saat ini ada rekannya yang belum menerima pengembalian uang setoran.
Sebelumnya diserahkan kepada salah satu kepala desa di wilayah Pati selatan.
Setidaknya terdapat dua calon perangkat desa yang disebut telah menyetorkan uang dengan nominal berkisar Rp125 juta hingga Rp150 juta.
Menurut pengakuannya, jabatan yang dijanjikan kepada para calon tersebut antara lain kepala dusun (kadus) dan kaur keuangan.
Salah satu kasus terjadi di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, di mana calon perangkat desa disebut menyetor sekitar Rp125 juta untuk posisi kepala dusun.
“Di Desa Baturejo, Sukolilo, sampai sekarang belum dikembalikan. Untuk jabatan kadus itu setorannya sekitar Rp125 jutaan,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan, demi memperoleh formasi perangkat desa, sejumlah calon bahkan rela menjual dan menggadaikan aset berharga milik mereka.
Ada yang menjual mobil, sementara lainnya menggadaikan sawah hingga seluas tiga hektare.
“Orang desa hartanya ya sawah. Ada yang satu digadaikan, satunya dijual,” katanya.
Sementara itu, seorang sales yang juga enggan disebutkan namanya mengungkapkan adanya dugaan satu orang pengepul uang setoran di wilayah Pati selatan dengan inisial S.
Informasi tersebut disebut mengarah ke salah satu desa di Kecamatan Sukolilo.
Ia menambahkan, pengepul tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan Kepala Desa Slungkep. Bahkan, setoran dari wilayah Pati selatan disebut dikoordinasikan melalui wilayah tersebut.
“Pati selatan itu Slungkep yang mengoordinasikan ke atas. Memang ada beberapa orang, semacam tim yang membawa uang,” ujarnya. (adr/him)
Editor : Abdul Rochim