PATI - Nama H. Sudewo, S.T., M.T. mendadak menjadi sorotan nasional.
Bupati Pati periode 2025–2030 itu dilaporkan terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Minggu malam hingga Senin dini hari, 19 Januari 2026.
Meski hingga kini KPK belum merilis keterangan resmi mengenai status hukumnya, kabar tersebut telah mengguncang birokrasi dan masyarakat di “Bumi Mina Tani”.
Sudewo resmi dilantik sebagai Bupati Pati pada 20 Februari 2025 setelah memenangkan Pilkada Pati 2024 berpasangan dengan Risma Ardhi Chandra sebagai wakilnya.
Artinya, ia baru menjabat sekitar 11 bulan ketika isu OTT ini mencuat ke ruang publik.
Pernah Bersentuhan dengan KPK
Isu hukum bukan hal yang sepenuhnya baru bagi Sudewo.
Saat masih menjadi anggota DPR RI, namanya pernah muncul dalam pusaran penyidikan KPK terkait perkara di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.
Dalam perkara tersebut, Sudewo sempat dipanggil dan diperiksa oleh penyidik KPK untuk dimintai keterangan. Ia kala itu berstatus sebagai saksi.
Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan dugaan aliran dana proyek perkeretaapian yang menyeret sejumlah pihak, termasuk pejabat kementerian dan pihak swasta.
Meski tidak ditetapkan sebagai tersangka, momen itu menandai pertama kalinya Sudewo bersentuhan langsung dengan proses hukum KPK, sebuah catatan yang kini kembali relevan di tengah kabar OTT di Pati.
Gelombang Protes di Awal Jabatan
Masa awal kepemimpinan Sudewo di Pati tidak berjalan mulus.
Pada Agustus 2025, pemerintah kabupaten menaikkan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga mencapai 250 persen.
Kebijakan tersebut memicu kemarahan publik. Ribuan warga turun ke jalan, mengepung pusat pemerintahan, bahkan menuntut Sudewo mundur dari jabatannya.
Demonstrasi itu menjadi salah satu aksi terbesar di Pati dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menandai awal kepemimpinan yang penuh tekanan.
Isu OTT dan Dugaan Jual Beli Jabatan
Per 19 Januari 2026, nama Sudewo kembali menjadi perbincangan hangat setelah beredar luas kabar bahwa ia ikut terseret dalam OTT KPK.
Informasi yang beredar di kalangan internal dan pesan berantai menyebutkan, operasi tersebut berkaitan dengan dugaan praktik jual beli jabatan, khususnya dalam pengisian perangkat desa.
KPK sendiri belum mengumumkan secara resmi siapa saja pihak yang ditangkap dan bagaimana konstruksi perkara yang tengah diusut.
Juru bicara KPK hanya menyampaikan bahwa lembaga antirasuah akan memberikan pembaruan dalam waktu dekat, sesuai mekanisme 1x24 jam penentuan status hukum pasca-OTT.
Di Pati, kabar ini langsung memicu keguncangan. Lingkar birokrasi dan kalangan politik dibuat resah.
Pendapa Kabupaten tampak lebih lengang dari biasanya, sementara publik menanti kepastian dari KPK.
Bagi Sudewo, isu ini menjadi babak paling krusial dalam perjalanan politiknya.
Dari seorang teknokrat yang meniti karier di dunia konstruksi, naik ke panggung nasional sebagai anggota DPR, lalu kembali ke kampung halaman sebagai bupati, kini ia berada di persimpangan sejarah: antara meninggalkan warisan kepemimpinan atau justru tercatat sebagai kepala daerah yang tumbang di tengah pusaran perkara hukum.
Lintasan Karier Sudewo
Sudewo lahir di Pati, 11 Oktober 1968. Ia tumbuh sebagai putra daerah Desa Slungkep, Kecamatan Kayen.
Masa sekolahnya dihabiskan di kampung halaman hingga menamatkan pendidikan menengah di SMAN 1 Pati.
Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Karier profesionalnya dimulai dari level paling dasar. Pada 1993–1994, Sudewo bekerja sebagai karyawan di PT Jaya Construction.
Setahun berselang, ia masuk ke lingkungan pemerintahan sebagai tenaga honorer pada Proyek Peningkatan Jalan dan Jembatan Departemen Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bali (1994–1996).
Perjalanannya di birokrasi berlanjut saat ia diangkat sebagai CPNS di proyek yang sama pada 1996–1997.
Setelah itu, ia ditempatkan di Departemen PU Kantor Wilayah Provinsi Jawa Timur (1997–1999), sebelum akhirnya menjadi PNS di Dinas PU Kabupaten Karanganyar pada periode 1999–2006.
Pengalaman belasan tahun di sektor infrastruktur membuat namanya cukup dikenal di kalangan teknokrat dan birokrat, khususnya di bidang pembangunan jalan dan jembatan.
Menapaki Dunia Politik
Dari jalur teknis, Sudewo berbelok ke arena politik. Ia maju sebagai calon legislatif dan berhasil melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra.
Sejak itu, Sudewo dikenal sebagai politisi yang lekat dengan isu-isu pembangunan.
Ia tercatat telah duduk selama tiga periode di DPR RI, seluruhnya di Komisi V yang membidangi infrastruktur, transportasi, dan pembangunan wilayah.
Pamornya di tingkat lokal kian menguat ketika ia terjun ke Pilkada Pati dan memenangkan kontestasi.
Pelantikan sebagai Bupati Pati menjadi puncak perjalanan panjangnya—dari pekerja proyek, birokrat, legislator, hingga kepala daerah. (*/him)
Baca Juga: BREAKING NEWS! Bupati Pati Sudewo Diperiksa KPK Karena Kasus Ini
Editor : Abdul Rochim