Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Dikepung Banjir Desa Mintobasuki di Pati Hanya Bisa Diakses dengan Perahu dan Truk Besar

Abdul Rochim • Kamis, 15 Januari 2026 | 19:02 WIB
Warga Desa Mintobasuki, Pati menggunakan perahu untuk alat transportasi sehar-hari.
Warga Desa Mintobasuki, Pati menggunakan perahu untuk alat transportasi sehar-hari.

PATI - Menuju Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, kini bukan perkara mudah. Jalur darat nyaris lumpuh.

Mobil dan sepeda motor kecil yang nekat masuk berisiko mogok di tengah genangan.

Untuk sampai ke desa di perbatasan Pati Kota itu, warga harus bertukar moda: menumpang truk besar atau menyusuri sungai dengan perahu.

Wartawan ini mencoba masuk lewat Desa Banjarsari. Upaya itu kandas di tengah jalan. Air menggenang setinggi paha orang dewasa.

“Tidak bisa lewat. Nanti motornya mogok,” ujar seorang warga Banjarsari.

Banyak pengendara terpaksa memutar balik. Jalur tersebut sebenarnya direkomendasikan aplikasi peta sebagai jalan alternatif. Kebingungan pun terjadi.

“Saya mau ke Rembang lewat mana? Pantura macet, di sini banjir,” keluh seorang pengguna jalan.

Sebagian orang memilih jalan ekstrem: menyewa jasa truk agar bisa melintas.

Beberapa pemilik motor tampak bahu-membahu dengan sopir truk, mengangkat kendaraan mereka ke bak.

Warga Mintobasuki sendiri banyak yang menitipkan sepeda motor di Masjid An-Nur, Dukuh Ngantru, Desa Banjarsari.

Bahkan kendaraan milik pemerintah desa ikut diamankan di sana.

Selain truk, satu-satunya pilihan adalah perahu. Akses bisa ditempuh melalui Sungai Silugonggo atau estafet perahu dari wilayah Banjarsari.

Wartawan Radar Pati menyeberang menggunakan perahu milik Pemerintah Desa Mintobasuki, menyusuri celah antara sungai dan persawahan yang telah berubah menjadi lautan air.

Ratusan jiwa di desa itu kini hidup di tengah genangan. Sawah dan permukiman menyatu dalam warna kecokelatan.

Perahu menjadi kendaraan harian warga. Ketinggian air bervariasi, dari 40 sentimeter hingga lebih dari satu meter.

Kendaraan kecil tak lagi berguna. Banyak motor diselamatkan dari rendaman.

“Banjirnya parah. Akses jalan utama desa hanya bisa dilewati kendaraan tertentu. Kendaraan kecil sudah tidak mungkin,” kata Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji.

Banjir mulai merangsek sejak Sabtu sore (10/1) akibat luapan Sungai Silugonggo. Hingga Kamis (15/1), air belum menunjukkan tanda surut.

Data desa mencatat 241 rumah terendam, berdampak pada 313 kepala keluarga atau sekitar 800 jiwa. Di dalam rumah, air setinggi 5–60 sentimeter.

Di jalan, bisa mencapai 90 sentimeter.

Lahan pertanian ikut lumpuh. Enam hektare padi muda dan 65 hektare padi siap panen tenggelam. Kerugian ditaksir mencapai Rp515 juta.

Desa benar-benar terisolasi.

“Semua akses kebanjiran. Di jalan utama kedalaman air 50 sampai 80 sentimeter,” ujar Mustaji.

Tak ada dapur umum. Warga bertahan dengan cara mereka sendiri. Untuk berbelanja, mereka bergantian naik perahu menuju pasar.

“Kendalanya, belanja jadi tidak maksimal. Aksesnya sulit,” katanya.

Keluhan kesehatan mulai bermunculan, terutama penyakit kulit. Gatal-gatal menjadi cerita yang berulang. Namun hingga kini, posko kesehatan darurat belum tersedia.

Keluhan sudah banyak. Posko kesehatan belum ada, mungkin masih koordinasi. Bantuan kemarin baru mi instan dari Kemenag.

"Donatur lain mungkin terbagi karena banjir terjadi hampir merata di Pati,” jelasnya.

Ia berharap ada penanganan jangka panjang. Banjir adalah tamu tahunan di Mintobasuki. Solusi permanen menjadi kebutuhan mendesak.

Meski demikian, warga memilih bertahan di rumah masing-masing. Tidak ada pengungsian massal.

“Sudah biasa. Banjir ini tahunan. Tidak ada yang mengungsi,” kata Rio, warga setempat.

Banyak rumah lama terendam hingga setengah pintu.

Namun sebagian warga telah menyiasatinya. Bagian belakang rumah ditinggikan, bekas kandang sapi diubah menjadi hunian yang lebih aman dari air.

“Tidak mengungsi. Di belakang itu dulu kandang sapi, sekarang dibuat rumah dan ditinggikan,” ujarnya sambil menunjuk bangunan.

Di tengah keterisolasian, warga Mintobasuki bertahan, dengan perahu sebagai nadi kehidupan, dan kesabaran sebagai sandaran. (adr/him)

Editor : Abdul Rochim
#Desa Mintobasuki hanya diakses dengan perahu #banjir di pati #pati