PATI - Suasana duka di Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, terasa berbeda.
Bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga karena keterisolasian desa yang nyaris terputus akibat banjir.
Untuk mencapai wilayah ini, warga harus berganti moda transportasi—dari truk hingga perahu.
Wartawan Radar Pati yang hendak melayat ke rumah almarhum Warsono merasakan langsung sulitnya akses.
Jalur darat terhenti di Desa Banjarsari. Air setinggi paha orang dewasa menutup jalan, memaksa banyak pengendara berbalik arah di sekitar Jembatan Ngantru.
“Tidak bisa lewat, Mas. Tadi disuruh warga putar balik. Mobil tidak mungkin masuk,” ujar seorang pengguna jalan.
Upaya menembus jalur darat tetap gagal. Ketinggian air mencapai 40 sentimeter hingga 1,5 meter. Akhirnya, wartawan menunggu jemputan perahu dari Pemerintah Desa Mintobasuki.
“Lewat sungai saja. Nanti saya jemput pakai perahu,” kata Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, melalui sambungan telepon.
Sambil menunggu, terlihat kendaraan warga Mintobasuki terparkir di titik-titik aman, salah satunya di Masjid An-Nur Dukuh Ngantru.
Untuk masuk desa, warga menempuh berbagai cara: berjalan kaki, menumpang truk relawan, atau menyusuri Sungai Silugonggo dengan perahu.
Air sungai telah meluap menyatu dengan daratan. Sawah dan permukiman berubah menjadi hamparan genangan.
Perahu harus menyusuri alur sungai lalu berbelok melalui celah antara sungai dan persawahan agar tidak kandas.
Sebelum menuju rumah duka, wartawan diajak berkeliling desa. Ratusan rumah dan hektare sawah terendam. Sekilas tampak seperti badan sungai yang melebar.
“Ini sawah, Mas. Semua terendam,” jelas Abdul Mustaji.
Sekitar 1–2 kilometer dari tepi jalan raya, rumah duka berada. Kursi-kursi hijau di depan rumah masih tertata rapi, berdiri di tengah genangan.
Keluarga menyambut dengan duka mendalam.
Keponakan almarhum, Edi Lismanto, menceritakan perjuangan pamannya yang telah lama menderita gagal ginjal dan rutin menjalani cuci darah.
“Sebelum banjir, kalau cuci darah naik mobil pakai aplikasi,” katanya lirih.
Namun setelah banjir, kendaraan tak lagi berani masuk. Akses terputus, pengobatan tersendat. Warsono akhirnya meninggal dunia pada Kamis (15/1) pagi.
Pemulasaraan jenazah tetap dilakukan di rumah, meski halaman depan tergenang setinggi setengah lutut.
Rumah bagian dalam aman, sehingga salat jenazah masih bisa dilaksanakan.
Karena ambulans tak dapat masuk, keluarga dan warga sepakat mengantar jenazah menggunakan perahu kayu bermesin tempel.
Keranda dibaringkan di atas perahu dan ditutup terpal.
Beberapa pelayat duduk mengiringi, sebagian lainnya berjalan menuntun perahu menembus air setinggi paha.
Perjalanan menuju TPU menempuh rute persawahan yang kini menjadi lautan air. Jaraknya sekitar dua kilometer. Area makam pun sebagian terendam.
“Kami sempat minta ambulans, tapi tidak bisa masuk. Akhirnya pakai perahu milik desa,” kata Edi.
Pemakaman dilakukan di titik tanah yang lebih tinggi di perbatasan desa.
Warga berdatangan dengan berbagai cara, ada yang naik perahu, ada yang berjalan kaki, menyesuaikan tinggi air di sekitar rumah masing-masing.
Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, membenarkan keputusan tersebut.
“Kami sempat menghubungi mobil jenazah, tetapi sedang digunakan di tempat lain. Akses darat juga tidak memungkinkan. Maka keluarga dan warga sepakat menggunakan perahu, apalagi jalur ke makam lewat sawah yang seluruhnya terendam,” ujarnya.
Meski banjir melumpuhkan hampir seluruh aktivitas, warga memastikan almarhum tetap dimakamkan dengan layak, di tengah genangan, dengan cara yang paling mungkin mereka tempuh. (adr/him)
Editor : Abdul Rochim