PATI – Memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember 2025, Komunitas Rumah Matahari Kabupaten Pati menggelar Aksi Damai dengan mengusung tema "Kolaborasi Komunitas; Peduli, Dukung, Hapus Stigma HIV".
Aksi ini menjadi momentum penting untuk menekankan bahwa HIV adalah isu kesehatan semata, bukan aib yang harus disembunyikan.
Sejak berdiri pada 14 Maret 2011, Rumah Matahari telah menjadi garda terdepan dalam pendampingan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Pati.
Hingga saat ini, komunitas tersebut mendampingi 955 ODHA dewasa dan 30 Anak dengan HIV/AIDS (ADHA), di mana 891 di antaranya telah rutin menjalani pengobatan Antiretroviral (ART).
Lonjakan Kasus sebagai Peluang Memutus Rantai
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Pati periode 1996 hingga September 2025, tercatat total kasus HIV/AIDS mencapai 3.217 kasus dengan angka kematian terkait HIV/AIDS sebanyak 550 jiwa.
Pihak Rumah Matahari menegaskan bahwa peningkatan temuan kasus belakangan ini, terutama melalui layanan Mobile VCT di area komunitas, tempat kerja, hingga lembaga pemasyarakatan, tidak semestinya dipandang negatif.
"Semakin banyak kasus ditemukan, maka peluang memutus mata rantai penularan menjadi jauh lebih tinggi. Temuan dini membuat ODHA bisa segera memulai pengobatan, mencegah penularan, dan meningkatkan kualitas hidup," ungkap Prasetyo perwakilan Rumah Matahari dalam rilis resminya.
Keberhasilan Program Pencegahan Ibu ke Anak
Salah satu bukti nyata bahwa HIV dapat dikendalikan adalah keberhasilan program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIC).
Selama kurun waktu 2015 hingga 2023, Rumah Matahari mendampingi 38 ibu hamil dengan status HIV positif.
Hasilnya, seluruh bayi yang dilahirkan dari ibu-ibu tersebut dinyatakan non-reaktif atau negatif HIV setelah melalui serangkaian tes.
Hal ini membuktikan bahwa dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, penularan virus dapat dicegah sepenuhnya.
Selain itu, program pemeriksaan calon pengantin yang digagas Pemerintah Kabupaten Pati juga dinilai efektif, meski sempat menuai pro dan kontra di awal pelaksanaannya.
Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan pasangan dapat merencanakan masa depan yang sehat dan aman.
Dalam aksi damai tersebut, Komunitas Rumah Matahari menyampaikan empat seruan utama kepada masyarakat:
* Peduli: Meningkatkan empati dan pemahaman terhadap ODHA.
* Dukung: Memastikan akses pengobatan dan layanan kesehatan yang ramah.
* Hapus Stigma: Menyadari bahwa HIV bukan kutukan atau aib, dan tidak menular lewat interaksi sosial sehari-hari.
* Perkuat Kolaborasi: Penanggulangan HIV memerlukan kerja sama antara pemerintah, layanan kesehatan, dan masyarakat.
"Temuan kasus bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, namun menjadi kesempatan untuk menyelamatkan lebih banyak jiwa dan menghentikan penularan," tutup pernyataan tersebut.
Melalui kolaborasi lintas sektor, Kabupaten Pati diharapkan dapat mewujudkan lingkungan yang lebih sehat, inklusif, dan bebas dari stigma terhadap ODHA. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab