Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Teater As STAIP Angkat Luka Keluarga dalam Pementasan Penuh Makna

Achmad Ulil Albab • Jumat, 24 Oktober 2025 | 04:49 WIB
Pentas Teater As STAI Pati memukau para penonton. (DOK TEATER AS)
Pentas Teater As STAI Pati memukau para penonton. (DOK TEATER AS)

 

PATI – Luka batin yang tumbuh dalam lingkungan keluarga menjadi tema utama dalam pementasan terbaru Teater As Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAIP).

Melalui karya tersebut, para anggota teater mencoba menyuarakan keresahan tentang pentingnya membicarakan luka, sebagai bentuk kepedulian dan upaya penyembuhan bersama.

Kisah fiksi yang diangkat berkisah tentang Sukma, diperankan oleh Fida, seorang perempuan yang kerap mendapat perlakuan kasar dari ibunya.

Ia tak memahami alasan di balik sikap dingin dan keras sang ibu, yang seharusnya menjadi sosok penyayang. Situasi ini kemudian menjadi sumber konflik dalam keluarga.

Ayah yang diharapkan menjadi tempat bersandar justru meninggalkan mereka. Hal itu membuat Ahmad, adik bungsu Sukma yang dimainkan Luki, tumbuh dengan perasaan benci terhadap sang ayah yang dianggap tidak bertanggung jawab.

Sementara itu, Mbak Tari (diperankan oleh Destin) berusaha menjaga keharmonisan keluarga di tengah konflik yang kian rumit.

Namun, sebuah rahasia besar akhirnya terungkap — sang ibu (diperankan oleh Sinta) ternyata pernah mengalami peristiwa traumatis ketika mengandung Sukma.

Trauma masa lalu itu membuatnya tidak pernah benar-benar siap menerima kehadiran anak keduanya.

“Melalui naskah ini kami ingin berbicara tentang luka yang sering muncul justru dari dalam keluarga. Kadang dari luar mereka tampak baik-baik saja, padahal menyimpan beban besar di dalam,” ujar Nur Hafida, lurah Teater As sekaligus pemeran Sukma.

Menurutnya, membicarakan persoalan keluarga memang sering dianggap tabu, tetapi justru di sanalah pentingnya ruang untuk saling mendengarkan.

“Orang yang terluka sebenarnya hanya butuh teman untuk didengarkan. Jika hal itu tidak ada, trauma itu bisa diwariskan dari generasi ke generasi,” tambahnya.

Fida berharap pementasan ini bisa menjadi doa bersama agar setiap orang — baik pemain maupun penonton — dapat menemukan kebahagiaan dalam keluarganya, meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda.

Pimpinan produksi, Syakira Delilah, menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan produksi keenam Teater As STAIP.

Pertunjukan tersebut menjadi wadah untuk mengasah kemampuan para anggota, sekaligus memperkuat kerja sama tim.

“Teater bukan hanya soal akting, tapi juga tentang kerja kolektif. Semua elemen — produksi, aktor, musik, pencahayaan, artistik — harus punya visi yang sama. Dari teater kami belajar banyak hal, mulai dari manajemen, keterampilan teknis, hingga nilai saling menghargai,” ungkapnya.

Dosen pembimbing Teater As, Sofiah, turut memberikan apresiasi atas pementasan tersebut.

Ia merasa bangga karena naskah yang digunakan merupakan karya orisinal dari anggota Teater As sendiri, Sinta Nur Hidayati.

“Kami berharap akan lahir karya-karya lain dari mahasiswa STAIP, baik dalam bentuk naskah maupun karya sastra lainnya,” tuturnya. (aua)

 

Editor : Achmad Ulil Albab
#STAI Pati #teater #produksi #pentas #budaya