PATI - Bupati Pati Sudewo turut menghadiri perayaan Tradisi Meron di Desa/Kecamatan Sukolilo, Sabtu (6/9).
Jalan Raya Sukolilo sampai harus ditutup total. Ribuan orang memadati jalanan tersebut.
Gunungan dijajar sepanjang jalan. Jarak masing-masing gunungan sekitar 100-an meter. Supaya keramaian terpecah.
Gunungan menjulang setinggi dua meteran. Dihias beraneka rupa. Bagian atas melingkar rangkaian bunga, di tengahnya ada replika ayam jago. Ada pula yang replika masjid.
Di bawahnya ada rangkaian ronce dari kejauhan serupa kembang melati, yang merupakan makan berbahan ketan. Gunungan ini dibawa oleh rombongan kepala desa dan perangkatnya.
Bupati Sudewo menyebut bahwa Meron bukan hanya tradisi dan budaya milik warga Sukolilo, tetapi sudah menjadi bagian dari kekayaan tradisi dan budaya Kabupaten Pati.
“Tradisi Meron ini lahir dari perjalanan sejarah Kerajaan Mataram dan Kabupaten Pati. Nilai-nilainya sangat penting, yakni memperkuat persatuan, menjaga kedamaian, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” kata Sudewo.
Asal usul Tradisi Meron tidak lepas dari pengaruh Kesultanan Mataram.
Tradisi Meron pertama kali dilakukan pada awal abad ke-17, pada era pemerintahan Sultan Agung. Meron merupakan tradisi peringatan maulid nabi Muhamad SAW.
Dikisahkan Ali Zuhdi dalam bukunya Meron di Pati, Riwayat, Hakikat dan Makna Filosofi (2022), setelah penyerbuan Mataram atas Pati, pada tahun 1627 sisa-sisa prajurit Mataram menetap di Kademangan Sukolilo.
Yang kemudian dilanjutkan oleh demang setempat yang merupakan satu dari lima bersaudara yang dikenal dengan sebutan Pendowo Limo.
Saat itu bertepatan dengan maulid Nabi Muhamad SAW, tanggal 12. Mereka ingat biasanya di Keraton Mataram diadakan upacara Sekaten.
"Sultan Agung berkenan memberikan izin bagi Kademangan Sukolilo mengadakan perayaan serupa Sekaten tiap tahun. Namun istilahnya bukan Sekaten, melainkan Meron. Tradisi itulah yang kemudian dilestarikan masyarakat sampai sekarang," tulis Ali Zuhdi, yang merupakan salah seorang keturunan dari Pendowo Limo itu.
Pada mulanya, belum ada nama meron di awal pelaksanaan tradisi ini, gunungannya juga hanya satu.
Kemudian, lanjut Ali Zuhdi, berkembang menjadi 13 gunung saat ini. Gunungan ini dari kepala desa dan semua perangkat desa kecuali bagian petengan.
Perayaannya saat itu sangat sederhana, dan diadakan di dekat pasar dekat pusat kademangan.
Lokasi itu sekarang berada di Dukuh Pesanggrahan RT 1 RW 9. Meron sendiri artinya ramene tiron-tiron, artinya meniru keramaian yaitu meniru sekaten.
Lebih lanjut Bupati Sudewo juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Sukolilo beserta jajaran, panitia, dan seluruh tokoh masyarakat yang telah menjaga tradisi ini tetap lestari.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Pati memberi dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Meron setiap tahunnya.
Selain aspek budaya, Sudewo menilai doa-doa yang dipanjatkan masyarakat dalam perayaan Meron telah membawa berkah bagi pembangunan daerah.
Ia menyebutkan sejumlah proyek infrastruktur di wilayah Sukolilo dan sekitarnya yang telah rampung maupun masih berjalan.
Diketahui rangkaian tradisi Meron sendiri berlangsung sejak 3 September dengan berbagai kegiatan seperti pengajian dan khitan massal.
Sedangkan event budaya digelar mulai 5 – 6 September. Pada Jumat 5 September digelar Meron Culture Festival mulai pukul 07.00 di Jalan Raya Sukolilo.
Kemudian ada Karnaval Pendowo Limo yang digelar pukul 13.00 berlokasi di Jalan Sanggrahan–Tengahan, Sukolilo.
Pada malam harinya digelar Ulan–Ulan Night Carnival mulai puku 19.00 di Jalan Raya Sukolilo.
Acara puncak digelar pada Sabtu 6 September, pada pagi hari Gebyar Sultan Agung di Jalan Raya Sukolilo. Kemudian upacara adat Tradisi Meron berlangsung puku 11.45 di Jalan Raya Sukolilo
Kepala Desa Sukolilo Ahmad Amirudin mengungkapkan, selama rangkaiaan acara Tradisi Meron tahun ini tidak kurang puluhan ribu pengunjung yang datang ke desanya.
“Seperti biasa acara tahunan Meron berlangsung meriah, kalau kisaran pengunjung puluhan ribu orang. Tidak hanya dari Sukolilo sendiri tapi dari berbagai daerah sekitar,” ungkapnya. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab