PATI - Seorang siswa PKL asal Tegal hilang ketika praktik di kapal asal Pati. Kejadian itu diduga saat kapal tengah bergeser posisi usai menarik jangkar di Madura.
Kejadian itu bermula ketika siswa praktik kerja lapangan (PKL) dari SMK Negeri 4 Tegal pada 23 Juni lalu.
Saat kapal tempatnya bertugas sedang berlayar di perairan Kangean, Madura, Jawa Timur.
Siswa bernama MDS (16) itu dinyatakan hilang sekitar pukul 14.30 di atas KM. Mekar Sari GT 99, diduga saat kapal tengah bergeser posisi usai menarik jangkar.
Sebelum dinyatakan hilang, MDS terakhir kali terlihat sekitar pukul 11.00 ketika rekan-rekannya mengajaknya makan siang.
Namun, setelah itu, keberadaannya tidak diketahui lagi. Pencarian langsung dilakukan oleh kru kapal dan rekan-rekan siswa di seluruh bagian kapal, namun hasilnya nihil.
Baca Juga: Praktik di Kapal KM Harapan Srijaya Asal Juwana, Siswa SMK Perikanan Jember Hilang di Laut
Kejadian tersebut segera dilaporkan dan memicu pencarian besar-besaran oleh unsur SAR, termasuk Basarnas, Polairud, dan kapal-kapal lain di sekitar lokasi kejadian.
Hingga saat ini, upaya pencarian masih terus dilakukan dengan melibatkan berbagai instansi terkait.
Sebagai bentuk kepedulian dan pendampingan kemanusiaan, Satpolairud Polresta Pati memfasilitasi pertemuan antara pihak keluarga korban dengan pemilik kapal KM. Mekar Sari, Edi Santiko, di rumah keluarga korban di Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, pada Minggu (6/7), pukul 14.50.
Pertemuan yang penuh haru ini dihadiri oleh IPDA Lis Purnomo beserta anggota Satpolairud, perwakilan LPK CV. Samurda Rahayu Perkasa, Kepala SMK Negeri 3 Tegal Drs. Bedjo, M.Pd., serta unsur masyarakat seperti Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan perangkat RT/RW setempat.
Kasat Polairud Polresta Pati, Kompol Hendrik Irawan, menyampaikan bahwa kehadiran polisi tidak hanya untuk menjaga keamanan.
Tetapi juga untuk menunjukkan empati dan membantu keluarga korban dalam memahami kondisi dan perkembangan secara utuh.
“Kami hadir mendampingi agar informasi yang disampaikan kepada keluarga dapat diterima secara jujur dan transparan. Jangan sampai muncul simpang siur yang justru memperparah situasi batin keluarga,” tegas Kompol Hendrik.
Dalam kesempatan itu, pemilik kapal Edi Santiko menyerahkan santunan kepada keluarga sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kepedulian.
Barang-barang pribadi milik MDS juga diserahkan oleh pihak LPK kepada orang tua korban.
Kompol Hendrik menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan pihaknya selalu mengedepankan sisi kemanusiaan.
Baca Juga: Cegah Premanisme dan Pungli, Polresta Pati Intensifkan Patroli
“Kami memahami keluarga sedang dalam situasi sulit dan terpukul. Polisi hadir untuk memberikan dukungan moral dan menjadi jembatan komunikasi antara keluarga dengan pihak terkait,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa jika keluarga korban memilih menempuh jalur hukum, Polresta Pati siap memberikan pendampingan dan fasilitasi sesuai aturan yang berlaku.
Dalam pertemuan tersebut, keluarga MDS mengungkapkan rasa terima kasih atas perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.
Khususnya dari kepolisian yang terus mendampingi sejak awal kejadian.
Mereka menyatakan akan fokus terlebih dahulu pada proses pencarian dan memohon waktu untuk memulihkan diri dari trauma yang mendalam.
Kompol Hendrik juga menggarisbawahi pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan PKL, khususnya di sektor-sektor berisiko tinggi seperti kelautan dan perikanan.
“Keselamatan siswa harus menjadi prioritas. Kejadian ini harus menjadi pelajaran bersama agar tidak terulang. Semua pihak sekolah, lembaga pelatihan, dan operator kapal harus meningkatkan standar keamanan dan pengawasan,” pungkasnya. (adr)
Editor : Syaiful Amri