Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Berpakaian Adat Jawa, Jemaat GITJ Margorejo Pati Arak Gunungan Undhuh-Undhuh

Andre Faidhil Falah • Senin, 9 Juni 2025 | 21:23 WIB
DIGIRING: Jemaat GITJ Margorejo mengarak unduh-unduhan di Desa Badegan, Margorejo kemarin.
DIGIRING: Jemaat GITJ Margorejo mengarak unduh-unduhan di Desa Badegan, Margorejo kemarin.

PATI - Jemaat Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) Margorejo punya cara merayakan hari Pentakosta. Mereka mengarak unduh-unduhan menuju gereja setempat.

Suara gamelan yang mengalun pelan mengiringi langkah-langkah penuh khidmat para jemaat.

Berpakaian adat Jawa, mereka membawa gunungan besar berisi hasil bumi terong, ketimun, tomat, kacang panjang, dan sayur mayur lainnya menuju GITJ Margorejo pada Minggu (8/6) Desa Badegan, Margorejo.

Hari itu adalah perayaan Pentakosta, dan bagi jemaat GITJ Margorejo, ini juga momen istimewa yang mereka sebut riwaya undhuh-undhuh tradisi mempersembahkan hasil panen sebagai bentuk syukur atas limpahan berkat dari Tuhan.

Setibanya di gereja, gunungan persembahan dibawa masuk dengan iringan musik gamelan yang terus berdentang lembut. Gunungan diletakkan di altar gereja, diapit beragam hasil bumi lainnya: buah-buahan segar, umbi-umbian, hingga bahan pokok.

Semua ditata rapi, penuh warna, menyimbolkan kemakmuran dan ucapan syukur atas tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah.

“Hari Pentakosta menandai turunnya Roh Kudus. Dalam semangat itu, jemaat membawa persembahan hasil bumi sebagai wujud syukur mereka,” ujar Pendeta FX Supriyono dalam khotbahnya.

Pendeta Supriyono menjelaskan bahwa tradisi undhuh-undhuh ini sudah tertanam dalam iman Kristen, mengacu pada kisah umat Israel yang diberi tanah subur oleh Tuhan. Persembahan hasil bumi adalah simbol ketaatan sekaligus rasa terima kasih atas berkat yang terus mengalir.

“Kami percaya Tuhan sudah memberkati kami dengan luar biasa. Maka kami mempersembahkan hasil panen, sebagai wujud syukur yang nyata,” tambahnya.

Perayaan ini tak hanya soal simbolik, namun juga memperlihatkan bagaimana budaya Jawa dan nilai spiritual menyatu dalam harmoni.

Dekorasi tradisional, pakaian adat, dan detail estetika lainnya menciptakan suasana epik dan sakral, yang membuat perayaan Pentakosta tahun ini terasa istimewa.

Ketua Majelis GITJ Margorejo, Erna Yulianti, mengungkapkan bahwa acara riwaya undhuh-undhuh sudah menjadi tradisi tahunan gereja setiap memperingati Pentakosta.

Panitia mempersiapkan semuanya selama dua hari, mulai dari penyusunan gunungan hingga pernak-pernik dekorasi khas Jawa.

“Sebagian besar hasil bumi yang dijadikan persembahan adalah panen dari jemaat sendiri. Ini bukti nyata persembahan dari hati,” kata Erna.

Jemaat yang hadir pun datang dari berbagai desa sekitar seperti Jambean, Pegandan, Badegan, dan Margorejo sendiri.

Usai ibadah, seluruh jemaat berkumpul dalam jamuan kasih makan bersama dalam suasana kekeluargaan, mempererat tali persaudaraan yang menjadi inti dari kehidupan berjemaat.

Dalam suasana sederhana namun penuh makna, GITJ Margorejo menunjukkan bagaimana tradisi lokal dan iman Kristen bisa berpadu dalam semangat syukur yang luhur.

Dari tanah yang subur hingga hati yang tulus, semuanya dipersembahkan untuk memuliakan Sang Pemberi Berkat. (adr/amr)

 

Editor : Syaiful Amri
#jemaat gereja #pentakosta #pati #Arak arakan #pakaian adat jawa