Setidaknya, 60 kilometer daerah pesisir berpotensi tergenang rob.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mengungkapkan bahwa tujuh kecamatan di wilayah pesisir Pati berpotensi terdampak banjir rob.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, menyebutkan daerah yang terancam rob meliputi Kecamatan Batangan, Juwana, Wedarijaksa, Trangkil, Margoyoso, Tayu, hingga Dukuhseti.
“Potensi rob membentang dari Desa Pecangaan, Kecamatan Batangan, hingga Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, sepanjang sekitar 60 kilometer. Masyarakat di sepanjang wilayah ini perlu waspada karena potensi kerugian sangat besar,” ujar Martinus.
Ia mencontohkan kondisi di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, yang telah terdampak rob beberapa hari terakhir.
Sekitar 120 hektare tambak ikan tergenang air laut dan menyebabkan kerugian yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1 miliar.
Ratusan rumah warga juga ikut terdampak.
“Salah satu kasus yang menonjol terjadi di Tunggulsari. Rob dan banjir merusak tambak ikan nila, menyebabkan kerugian miliaran rupiah,” tambahnya.
Martinus menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh dua faktor utama: tingginya curah hujan di wilayah pegunungan yang menyebabkan limpasan air dari hulu, serta naiknya permukaan air laut.
Kombinasi ini menghambat aliran air ke laut dan memperparah genangan di wilayah pesisir.
“Ini masalah kompleks. Di satu sisi, hujan deras masih terjadi di wilayah atas. Di sisi lain, ancaman rob terus menghantui pesisir utara Pati,” kata Martinus.
Untuk mengurangi dampak bencana, masyarakat pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem mangrove.
“Jangan sampai tanaman mangrove ditebang dan diubah menjadi tambak. Mangrove adalah pelindung alami yang penting untuk menahan gelombang dan mencegah abrasi,” tegasnya.
Sementara itu, petani tambak di Desa Tunggulsari turut mengeluhkan dampak rob yang menghantam budidaya ikan mereka.
Salah satu petani, Ahmad Karnawi, menyebutkan bahwa rob yang terjadi sejak sepekan terakhir merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
“Puncaknya terjadi pada Jumat, 23 Mei. Air rob menenggelamkan sekitar 120 hektare tambak dengan kerugian lebih dari Rp 1 miliar, khususnya di tambak ikan nila,” ungkap Karnawi.
Ia menambahkan, selain rob, jebolnya tanggul di sisi timur desa memperparah banjir.
Akibatnya, air meluap ke permukiman dan mencapai ketinggian antara 30 hingga 50 sentimeter.
Bahkan kawasan mangrove pun rusak akibat gelombang tinggi yang menerjang.
Saat ini, kondisi rob mulai surut, namun warga masih waspada terhadap potensi banjir susulan. (adr/amr)
Editor : Syaiful Amri