PATI, RADARPATI.ID - Banjir yang melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah, akibat jebolnya dua titik tanggul Sungai Widodaren, mulai menunjukkan tanda-tanda surut.
Meskipun demikian, rasa was-was masih menyelimuti warga setempat.
Di Desa Ketitangwetan, Batangan, pada Senin (28/4) siang, memperlihatkan bahwa genangan air memang telah berkurang.
Namun, jalan poros desa masih tergenang dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter.
Sekitar 70 rumah masih terendam air.
Sementara kerusakan tanggul yang menjadi penyebab utama banjir belum juga mendapatkan perhatian serius dari pihak berwenang.
Warga yang rumahnya mulai bebas dari banjir kini sibuk membersihkan lumpur.
Mereka juga mengembalikan perabotan yang sempat mereka selamatkan.
Suradi, salah seorang warga yang terdampak, mengungkapkan, meskipun air sudah surut, proses pembersihan tidak semudah yang dibayangkan.
Material lumpur yang terbawa banjir menyulitkan upaya pemulihan rumah-rumah yang terdampak.
"Di rumah saya, ketinggian air saat banjir mencapai sekitar 30 sentimeter. Sekarang air sudah mulai surut, tapi lumpurnya masih banyak. Kami harus kerja keras untuk membersihkannya," ujarnya.
Kekhawatiran warga masih sangat tinggi, terutama karena curah hujan di wilayah Pegunungan Kendeng dan sekitarnya masih berpotensi mengakibatkan banjir susulan.
Sebelum kejadian ini, hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut telah menyebabkan debit air Sungai Widodaren melonjak drastis.
“Akibatnya, tanggul yang sudah rapuh tidak mampu menahan tekanan air dan akhirnya jebol di dua titik sekaligus. Ini belum diperbaiki,” katanya.
Banjir yang terjadi sempat mencapai ketinggian 50 hingga 70 sentimeter, melumpuhkan aktivitas warga selama beberapa hari.
Banyak dari mereka yang terpaksa mengungsi sementara, sementara sebagian lainnya berjuang menyelamatkan harta benda mereka dari terjangan air.
Warga setempat mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dalam memperbaiki tanggul yang rusak.
"Setiap kali hujan deras, tanggul ini pasti jebol. Sudah berulang kali kami mengadu, tetapi tidak ada tindakan nyata. Kami tidak mau terus-menerus menjadi korban kelalaian ini," keluh salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, Kepala Desa Ketitangwetan Ali Muntoha memberikan keterangan bahwa meskipun banjir telah mereda, tidak semua warga bisa bernapas lega.
"Sekitar 70 rumah masih terendam, padahal sebelumnya ada hampir 500 rumah yang tergenang. Kami sangat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan untuk memperbaiki tanggul Sungai Widodaren yang kondisinya sangat memprihatinkan," tegas Ali.
Ia menambahkan, kerusakan tanggul ini bukanlah hal baru.
Setiap tahun, warga selalu dihantui ancaman banjir ketika musim hujan tiba karena infrastruktur pengendali banjir tersebut tidak kunjung diperbaiki secara menyeluruh.
"Jika tidak segera ditangani, kejadian serupa akan terus terulang dan semakin banyak warga yang menjadi korban," imbuhnya. (adr/amr)
Editor : Syaiful Amri