KOTA, RADARPATI.ID – Pemkab Pati mencatat adanya peningkatan jumlah warganya yang merantau ke luar negeri tiap tahunnya.
Hal ini karena mereka tergiur dengan upah tinggi yang dijanjikan perusahaan luar negeri.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Pati, melaporkan bahwa jumlah warga usia produktif dari Pati yang merantau ke luar negeri terus meningkat.
Hitungan kasarnya, tiap tahun ada 1.500 warga Pati pergi ke luar negeri untuk magang atau bekerja.
Jika dilihat dari program magang atau bekerja ke luar negeri, hingga Juli lalu tercatat ada 700-an orang.
Di samping itu, pada 2022 dan 2023, hanya sekitar 800 warga yang pergi magang atau bekerja ke luar negeri.
Artinya angka itu melonjak di tahun ini yang berada di angka 700 dalam waktu setahun.
”Di Pati ini ada lowongan di pabrik-pabrik (misalnya HWI). Harapannya mereka ini bekerja di Pati. Sehingga tidak perlu ke luar negeri,” terang Kepala Disnaker Kabupaten Pati, Bambang Agus Yunianto.
Sebaliknya, tahun banyak WNA yang datang ke Bumi Mina Tani.
Berdasarkan data dari Kantor Imigrasi Pati, tercatat dua tahun belakangan ini terjadi peningkatan kedatangan dari orang asing sebesar 20 persen.
Pada 2023, WNA datang sebanyak 1.200 orang.
Sementara pada tahun ini belum genap setahun sudah ada 530 WNA.
Kepala Kantor Imigrasi Pati Ahmad Zaeni mengatakan, adanya potensi kenaikan jumlah WNA.
Kenaikannya mencapai 10-20 persen.
”Dengan adanya upah minimum kabupaten (UMK) rendah ini memikat investor. Otomatis, berdampak pada peningkatan jumlah WNA,” ujarnya.
Kata dia, tren peningkatan WNA ini karena adanya pabrik-pabrik yang ada di wilayah kerjanya.
Misalnya Pati dan Jepara.
Sehingga para WNA itu bekerja menjadi tenaga ahli di pabrik milik asing.
”Paling banyak tenaga kerja. Tapi ada juga yang menikah dengan warga negara Indonesia (WNI). Kami melihat untuk upah masih tejangkau di cakupan kantor kami. Segi upah terjangkau, maka banyak yang membuka perusahaan di sini,” tandasnya.
Terkait paspor, trennya juga mengalami kenaikan.
Dalam waktu 24 jam pihaknya bisa mencetak paspor hingga 700-an buku.
”Trennya akan naik. Apalagi menjelang akhir tahun,” ungkapnya. (adr)
Editor : Abdul Rochim