KOTA, RADARPATI.ID – Bantuan stimulan untuk petani padi di Kabupaten Pati yang mengalami gagal panen atau puso akhirnya dicairkan setelah penantian selama 1,5 tahun.
Bantuan ini berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, Arief Fadhilah, menjelaskan bahwa bantuan ini diberikan kepada petani yang terdampak banjir pada periode Januari hingga Maret 2023 lalu.
Bantuan ini disalurkan selama dua pekan.
“Proses pencairan membutuhkan waktu 1,5 tahun lebih. Dana ini langsung dari BNPB pusat, sementara BPBD hanya berperan menyalurkan. Data petani yang terdampak berasal dari Dinas Pertanian,” katanya.
Sebanyak 3.922 petani di Pati menerima bantuan stimulan puso tahap pertama ini, yang berasal dari 82 kelompok tani di enam kecamatan: Jakenan, Gabus, Margorejo, Wedarijaksa, Dukuhseti, dan Juwana.
Nominal bantuan yang diberikan bervariasi, tergantung luas lahan sawah yang terkena puso.
Petani yang lahannya seluas satu hektare mendapatkan bantuan Rp8 juta.
“Untuk tahap pertama ini, terdapat 1.961,38 hektare lahan yang terdampak, dengan total dana sebesar Rp15.691.800.000 untuk enam kecamatan. Setiap petani mendapatkan Rp8 juta per hektare lahan puso. Jika setengah hektare, maka bantuannya Rp4 juta,” jelas Arief.
“Penyaluran tahap pertama berlangsung dua minggu, mulai hari Senin lalu hingga Senin mendatang,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai alasan keterlambatan pencairan bantuan, Arief mengaku tidak mengetahui sebabnya.
“Hal ini sepenuhnya wewenang BNPB, karena tanggung jawab anggaran ada di mereka. Kami hanya melaporkan data. Dana langsung ditransfer dari BNPB ke petani melalui ketua kelompok tani,” tambahnya.
Saparin (60), seorang petani asal Desa Banjarsari, menyatakan rasa syukurnya atas bantuan ini.
Ia merasa terbantu setelah mengalami kerugian akibat banjir tahun lalu.
Lahan padi seluas lebih dari satu hektare miliknya terendam dan rusak, sehingga ia menerima bantuan puso sebesar Rp12 juta.
“Padi saya dulu membusuk karena kebanjiran, kerugiannya sekitar Rp25 juta. Bantuan ini sangat membantu untuk membeli bibit baru,” tutup Saparin. (adr/ali)
Editor : Abdul Rochim