Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Gas Melon Setelah Resmi Naik, Barangnya Malah Langka, Harga Tembus hingga Rp 30 Ribu, Iki Piye Leh?

Abdul Rochim • Kamis, 12 September 2024 | 03:12 WIB

 

LANGKA: Gas Melon kosong menumpuk di salah satu toko di daerah Wedarijaksa, Pati. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)
LANGKA: Gas Melon kosong menumpuk di salah satu toko di daerah Wedarijaksa, Pati. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

 

PATI, Radar Pati.ID– Walaupun harga gas melon resmi naik Senin (9/9), ternyata barang itu juga sulit didapat.

Jika ada gas melon, harganya pun sangat mahal. Jauh dari HET Rp 18 ribu, tetapi di pasaran tembus antara Rp 25 ribu, bahkan Rp 30 ribu per tabung.

Kesulitan mendapatkan gas melon dirasakan oleh Yanto, warga Kecamatan Margoyoso, Pati. Ia mengaku dalam beberapa hari terakhir kesulitan menemukan gas melon.

”Kadang ada, tapi seringkali tidak ada. Bisa dibilang cukup sulit mencarinya,” jelasnya.

Hal serupa juga dialami oleh Wati, warga Kecamatan Gembong. Selama 2-3 hari terakhir, ia juga mengalami kesulitan mendapatkan gas melon.

"Di Gembong memang sulit. Beberapa hari ini toko langganan saya kehabisan stok," tambahnya.

Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah Pati Kota. Kesulitan mendapatkan gas melon terutama dialami oleh para pelaku usaha atau pedagang, karena adanya pembatasan stok.

”Di Pati Kota, kendalanya adalah stok yang dibatasi. Sekarang tidak seperti dulu, pedagang hanya diperbolehkan membeli satu atau dua tabung gas melon saja,” ungkap salah satu pedagang itu.

Baca Juga: Pj Bupati Pati Susun RDTR, Wilayah Pertanian dan Karst Perlu Dilestarikan

Di Kabupaten Jepara alami hal sama. Bahkan di pinggiran Kota Jepara, seperti di Kecamatan Batealit dan Kecamatan Bangsri, Donorojo, harga gas melon tembus Rp 30 ribu.

”Sebelum harga dinaikkan, kami kesulitan cari gas (elpiji, Red). Sampai-sampai saya muter ke tiga desa untuk cari gas elpiji 3 Kg. Pas ketemu (elpiji 3 Kg, Red) harganya mahal,” ujar Selamet, warga Desa Bangsri, Kecamatan Batealit, Kab. Jepara.

Selamet menceritakan, dia sempat menyusuri toko-toko kelontong. Sampai-sampai dia menemukan tabung elpiji 3 Kg bertumpuk di depan toko.

”Saya ampiri, tak kira itu ada isinya. Ternyata hanya tabung gas. Tidak ada isinya,” jelasnya.

Ketika ditanya apakah ingin beralih ke gas tabung 5 Kg, dia mengaku belum berminat. Karena harganya mahal.

"Saya pernah beli (tabung 5 Kg). Harganya Rp 125 ribu. Padahal isinya 5 Kg. lebih hemat yang tabung gas elpiji melon, 3 Kg harganya Rp 25 ribu,” tandasnya.

Hal sama terjadi di Kudus. Menurut Wepe salah satu warga Desa Megawon, Kudus, mengalami hal sama. ”Langka gas elpiji sekarang. Mahal, tapi barang gak ada,” ujarnya.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jateng Nomor 540/20 Tahun 2024 tentang harga eceran tertinggi gas melon, harga ex Pertamina berkisar Rp 11.584, harga jual eceran (HJE) Rp 12.750, harga jual agen ke pangkalan Rp 15.520. Sementara HET di pangkalan sebesar Rp 18 ribu.

Sementara itu, pada tahun ini jumlah alokasi gas elpiji di Kabupaten Pati mencapai 38.505 Metrik Ton (MT).

Sementara hingga setengah tahun berjalan, tercatat sudah ada realisasi 15.798 MT gas tabung hijau.

Di samping itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, Hadi Santosa mengatakan, hingga saat ini stok gas melon diklaim aman.

Hanya saja ia mengakui bahwa ada kesulitan di daerah lain. ”Stok aman. Mungkin di beberapa wilayah ada peningkatan permintaan,” imbuhnya.

Hadi mengakui bahwasannya daerah perbatasan atau pelosok daerah ini menjadi faktor yang mengakibatkan sulitnya mendapatkan gas.

Hal itu karena beberapa daerah pangkalan gas itu tak banyak.

”Jadi ada daerah yang jumlah pangkalannya sedikit. Misalnya di daerah pegunungan,”imbuhnya.

Hadi melanjutkan, konsumsi masyarakat naik ini ketika ada even atau menjelang hari raya.

Mengatasi itu, setiap awal tahun dan mendekati momen perayaan hari besar, pihaknya mengajukan alokasi kebutuhan elpiji kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas).

Mengenai upaya pihaknya untuk beralih ke gas non subsidi atau gas pink, pihaknya belum bisa berkomentar banyak. Sebab belum ada kebijakan ke arah sana.

”Kita menunggu kebijakan pembatasan pembelian gas bersubsidi. Sampai saat ini belum ada info resmi,” tukasnya. (adr/zen)

 

 

 

Editor : Abdul Rochim
#langka #elpiji 3 kg #pati #gas melon