PATI, RADARPATI.ID – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah memastikan penyebab keracunan ratusan karyawan pabrik garmen di Pati.
Hal itu berdasarkan hasil pengecekan sampel makanan di laboratorium. Penyebab keracunan ini dipastikan bersifat nonbakteriologis.
Karena itu ada kemungkinan penyebab keracunan adalah kontaminasi zat lain pada makanan yang dikonsumsi para karyawan pabrik.
"Hasil lab-nya sudah keluar dan sudah kami serahkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Pati. Hasil lab dari sampel makanan yang diambil, sementara ini penyebabnya nonbakteriologis.
Namun saya tidak bisa berasumsi dulu mengenai penyebab pastinya," jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Irma Makiah.
Diberitakan sebelumnya 300 lebih karyawan pabrik garmen PT Sejin Fashion Indonesia di Margorejo Pati mengalami gejala keracunan pada, Selasa (16/7) lalu.
Peristiwa ini sempat membuat heboh, lantaran sejumlah video amatir tersebar di sosial media, memperlihatkan kepanikan di area pabrik karena banyak karyawan tampak mual, muntah dan lemas.
Klinik di Kawasan pabrik tersebut juga sampai penuh.
Sejumlah ambulans hilir mudir mengevakuasi para karyawan pabrik ini untuk dirujuk ke rumah sakit sekitar.
Para karyawan ini mengalami gejala keracunan ini usai menyantap makan siang di kantin pabrik dengan menu ikan tongkol dan sayur asem.
"Kami nanti menyocokkan hasil lab dengan gejalanya dulu. Karena gejalanya kemarin, kan, reaksinya cepat. Kurang dari satu jam sudah mual dan muntah.
Jadi kami masih perlu koordinasi lanjutan dengan DKK Pati untuk menyimpulkan penyebab pastinya," imbuhnya.
Lebih lanjut menurutnya, secara teori ilmiah, keracunan oleh bakteri baru akan bereaksi setelah jeda beberapa waktu yang relatif lama.
"Misalnya kita makan makanan basi. Responsnya nunggu, misalnya satu jam baru mual, mulas, muntah, dan diare. Tapi kemarin ini respon agak cepat.
Jadi kemungkinan ada kontaminasi zat lain. Teorinya seperti itu. Tapi belum pasti, masih harus diselidiki. Tidak boleh berasumsi," paparnya.
Yang jelas, lanjut Irma, dari sampel makanan dan muntahan yang dikirimkan DKK Pati, pihaknya sudah melakukan pengecekan beberapa jenis bakteri yang mungkin jadi penyebab keracunan makanan.
Hasilnya negatif. Sehingga kemungkinan besar penyebabnya nonbakteriologis.
"Tapi itu kan baru berdasarkan sampel makanan yang dikirim. Namun, bisa jadi makanan yang dikonsumsi (karyawan pabrik) tidak hanya dari situ.
Mungkin ada yang lain yang dikonsumsi, kan, kami belum tahu. Karena kami juga belum melakukan pengecekan langsung ke Pati," pungkasnya. (aua/ali/ade)
Editor : Alfian Dani