PATI, RADARPATI.ID – Kebedaraan warga negara asing (WNA) di Pati Raya meningkat. Mereka sebagian merupakan pengelola perusahaan-perusahaan yang menanamkan modal.
Upah minimum rendah di Pati dan sekitarnya diduga menjadi penyebabnya.
Berdasarkan data dari Kantor Imigrasi Pati, tercatat dua tahun belakangan ini, terjadi peningkatan kedatangan orang asing sebesar 20 persen.
Pada 2023, WNA yang datang ada 1.200 orang. Sedangkan pada tahun ini yang belum genap setahun sudah ada 530 WNA.
Kepala Kantor Imigrasi Pati Ahmad Zaeni mengatakan, belakangan memang ada kenaikan jumlah WNA di Pati Raya. Kenaikannya mencapai 10-20 persen.
Ini diduga dengan upah minimum kabupaten (UMK) di Pati Raya, terutama di Kabupaten Pati yang rendah menjadi pemikat investor.
Otomatis berdampak pada peningkatan jumlah WNA yang juga dikirim perusahaan yang menenamkan investasi itu.
”Semester pertama tahun ini, ada 530-an WNA yang kami layani (di Kantor Imigrasi Pati). Pelayanan WNA ini, seperti pelayanan izin tinggal dan perpanjangan izin tinggal,” katanya.
Menurutnya, tren peningkatan WNA ini, karena adanya pabrik-pabrik yang ada di wilayah kerjanya. Misalnya di Pati dan Jepara.
Dengan begitu, para WNA itu bekerja menjadi tenaga ahli di pabrik milik asing itu.
”(WNA di Pati Raya) paling banyak tenaga kerja. Tapi ada juga yang menikah dengan warga negara Indonesia (WNI),” tuturnya.
Di sisi lain, berdasarkan keterangan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Pati, UMK di Bumi Mina Tani senilai Rp 2.190.000.
Upah tersebut naik Rp 82 ribu dari tahun lalu Rp 2.107.697.
Mengenai tenaga kerja, Kepala Disnakertrans Pati Bambang Agus Yunianto menyatakan, di Kabupaten Pati ada pembukaan lowongan di beberapa pabrik.
Di antaranya, PT HWI Batangan, PT Seijin Fashion, dan PT Dua Kelinci. Setidaknya dari pabrik-pabrik itu, membutuhkan 10.850 karyawan.
”HWI butuh 3.500 tenaga kerja, Dua Kelinci butuh 3.000 tenaga kerja, dan Sejin 2.000 tenaga kerja.
Selain itu, ada juga PT Djarum butuh 1.100 tenaga kerja dan Pt Nikorama butuh 1.250 tenaga kerja,” imbuhnya. (adr/lin)
Editor : Abdul Rochim