Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Tanpa Sound Horeg, Haul Syeh Mutamakin di Pati Tetap Meriah dengan Karnaval Budaya, Begini Kata Panitia

Achmad Ulil Albab • Rabu, 17 Juli 2024 | 03:17 WIB

 

DRUMBAND: Karnaval budaya memeriahkan rangkaian haul Syekh Ahmad Mutamakin Kajen. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS )
DRUMBAND: Karnaval budaya memeriahkan rangkaian haul Syekh Ahmad Mutamakin Kajen. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS )

PATI, RADARPATI.ID – Kirab budaya di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso berlangsung meriah meskipun tanpa sound horeg.

Kirab ini merupakan acara tahunan dalam rangka memperingati Haul Syekh Ahmad Mutamakkin pada tanggal 10 Suro / Muharam siang kemarin.

Acara ini dimulai dari Kecamatan Margoyoso dan berakhir di SDN Kajen.

Acara tersebut bertujuan untuk mengenang Syekh Ahmad Mutamakkin, atau yang dikenal sebagai Mbah Sumohadiwijoyo, seorang waliyullah dan pendakwah terkenal di kota santri tersebut.

Ketua Panitia, Syamsul Bahri, menyatakan tahun ini panitia mengacu pada evaluasi tahun lalu.

Pihaknya memutuskan untuk tak menggunakan sound system seperti dangdut yang dinilai tidak sesuai untuk acara haul.

"Alasannya ini haul Mbah Ahmad Mutamakkin, kecuali kalau sedekah bumi di desa-desa lain, jadi kita bisa membedakan antara sedekah bumi dan haul Mbah Ahmad Mutamakkin," ujarnya.

Meskipun menuai pro dan kontra, namun acara berlangsung kondusif dan aman.

Acara kirab budaya ini juga menampilkan sekitar 16 Marching Band dari dalam dan luar kota dan berbagai lembaga pendidikan di Kajen, seperti Salafiyah, Matholi'ul Falah, dan Prima.

"Sementara untuk dana mendatangkan Marching Band, ini dikumpulkan dari iuran warga masing-masing RT bersifat seikhlasnya," jelasnya.

Afif Al-Qodri, seorang penonton dari Desa Ketanen, Trangkil, menyatakan karnaval di Kajen selalu meriah setiap tahunnya.

"Menampilkan banyak marching bandnya, jadi kirab budaya di Desa Kajen mencerminkan bahwa Desa Kajen sebagai kota santri karena banyak pondok pesantren dan juga madrasah," ujarnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan pelarangan sound horeg kali ini membuat acara terlihat lebih sopan dan sesuai untuk dengan situasi acara haul.

"Acara kirab budaya ini tak hanya menjadi sarana hiburan, tapi juga menjadi cerminan identitas Desa Kajen sebagai kota santri," paparnya. (aua/him)

Editor : Abdul Rochim
#sound horeg #Muharam #kajen #suro #pati #Waliyullah #kirab budaya