Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Lengkur Karomah dan Nasi Golong Jadi Makanan Khas Warga Sukolilo Pati saat Ada Hajat Ini

Abdul Rochim • Rabu, 12 Juni 2024 | 15:46 WIB
SAAT PUNYA HAJAT: Nasi Golong dan Lengkur Karomah khas Sukolilo Pati. (WARGA UNTUK RADAR PATI)
SAAT PUNYA HAJAT: Nasi Golong dan Lengkur Karomah khas Sukolilo Pati. (WARGA UNTUK RADAR PATI)

PATI, RADARPATI.ID - Lengkur karomah dan nasi golong menjadi makanan wajib yang harus dibawa ketika hendak datang ke makam Mbah Kholifah di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati.

Lengkur karomah yaitu ikan gabus yang sudah dibentuk lingkaran kemudian dibakar.

Sedangkan nasi golong yaitu nasi yang sudah dicetak menggunakan mangkuk.

Biasanya orang-orang datang ke makam tersebut untuk memenuhi nadzar.

Tapi ada juga yang hanya sekadar hajatan biasa. 

Untuk menu makanan yang dibawa yaitu berupa nasi golong berjumlah ganjil. Bisa berjumlah 5, 7, 9 nasi golong.

Kemudian ada ikan lengkur karomah berjumlah lebih dari satu ekor.

Dan lalapannya berupa garam yang sudah dibakar dan cabai merah. 

"Saya biasa datang ke makam untuk memenuhi nadzar, keluarga saya ikut dan memilih untuk makan di tempat dari pada harus di bawa pulang.

Karena kalau makan di sini rasanya jauh lebih enak dari pada di rumah," warga desa Yusron, Rabu (12/6)

Untuk prosesinya, warga yang hendak bernadzar langsung datang ke makam mbah Kholifah Prawoto setiap Kamis Legi setelah ashar.

Makam tersebut berlokasi di tengah sawah yang ada di kampung Gadu, Desa Prawoto, Sukolilo, Pati.

Lalu satu nasi golong dan satu lengkur diserahkan kepada tetua.

Tetua atau sesepuh tersebut merupakan orang yang memimpin doa.

Selain tetua tersebut juga ada para panitia yang ikut membantu berjalannya acara tersebut. 

Acara tersebut berlangsung kurang lebih sampai maghrib.

Pada saat ada orang yang datang dikumpulkan terlebih dahulu, jika sudah terkumpul langsung berdoa bersama.

Kemudian para pendatang bisa menikmati hidangannya.

Jika ada orang yang datang lagi, dikumpulkan lagi menunggu yang lainnya, baru berdo'a lagi.

Hal tersebut terus dilakukan sampai tidak ada orang yang datang. 

Orang yang datang ke makam tidak hanya warga Desa Prawoto saja.

Tapi juga ada warga luar desa juga.

Biasanya mereka datang bersama rombongannya mengendarai pikap (kendaraan bak terbuka). (CINDY/him)

 

Editor : Abdul Rochim
#wali #Sukolilo #ulama #pati #tradisi #budaya