PATI, RADARPATI.ID - Perilaku korup hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah.
Koruptor dinilai tak dapat menjaga muruah atau kehormatan dirinya sebagai manusia.
Hal itu diungkapkan KH. A. Mustofa Bisri saat mengisi Suluk Maleman yang membahas tentang menjaga Muruah tersebut.
Kehadiran Gus Mus sangat dinantikan jamaah Suluk Maleman. Sebab sudah sangat lama Gus Mus tidak berjumpa langsung sejak masa pandemi Covid-19 lalu.
Kiai kharismatik yang akrab disapa Gus Mus ini lalu mengutip sebuah hadits yang menegaskan bahwa Allah lebih mencintai mukmin yang kuat.
Kuat di sini bukan hanya secara jasmani, tapi juga secara ruhani.
"Kalau dirunut akhlak atau budi pekerti mulia itu sumbernya pasti dari kekuatan. Sebaliknya segala sesuatu yang buruk senantiasa berasal dari kelemahan," paparnya.
Gus Mus menyebut perilaku korup berawal dari sikap lemah pada dunia. Bahkan sekaya apapun jika masih lemah tentu ingin mendapatkan yang lebih lagi.
"Membayangkan anaknya lapar saja tidak kuat. Akhirnya mempersetankan norma, rakyat, bahkan dari mana asal harta tersebut. Berbeda dengan orang yang loman (dermawan, red) yang tidak pernah takut melarat saat bersedekah," terang Gus Mus.
Gus Mus lantas menceritakan tentang doa Kanjeng Nabi yang memilih miskin.
Dalam doanya Kanjeng Nabi memohon hidup miskin, mati dalam keadaan miskin dan dibangkitkan bersama orang-orang miskin. Padahal Nabi bisa saja memilih untuk kaya.
"Kanjeng Nabi itu bisa memilih karena beliau kuat hidup dalam dua situasi tersebut. Kuat saat kaya, kuat juga saat miskin. Beda dengan kita yang tidak bisa memilih, karena kenyataannya tidak kuat ketika kaya, tapi miskin juga karena terpaksa," sambung Gus Mus.
Salah satu cara agar bisa menjadi kuat adalah dengan riyadhoh.
Riyadhoh dalam pengertian aslinya bukan hanya mengolah jiwa, tapi juga bisa bermakna mengolah raga.
Dan hanya orang yang kuat saja yang mampu istiqomah, karena mereka yang lemah tak mungkin melakukan sesuatu secara istiqomah.
Gus Mus lantas bercerita tentang bagaimana kuatnya Nabi Muhammad saat kali pertama harus seorang diri berjuang menghadapi masa jahiliyah.
"Sekarang ini sudah banyak kawan saja masih maju mundur untuk berjuang," ujarnya.
Dalam Al Qur'an, lanjut Gus Mus, dijelaskan bahwa dunia diciptakan untuk manusia.
Namun karena tidak kuat dengan pemberian kuasa tersebut, justru manusialah yang dikuasai dunia.
"Kalau sudah kalah dengan dunia maka akan kehilangan muru’ah," tegas Gus Mus.
Sementara itu Anis Sholeh Baasyin, penggagas Suluk Maleman, menimpali pemaparan Gus Mus dengan menceritakan dawuh dari Mbah Dullah Salam dari Kajen.
"Mbah Dullah Salam pernah dawuh; sebagai makhluk yang paling unggul, mengapa manusia bangga bila bisa terbang, padahal itu bisa dilakukan oleh burung?. Untuk apa bangga bila bisa berjalan di atas air, padahal itu bisa dilakukan oleh ular?. Untuk apa bangga bila bisa kebal, padahal itu bisa dilakukan oleh batu?. Bukankah kedudukan manusia lebih tinggi dari batu, ular atau burung? Bukankah dengan itu semua, manusia justru sedang merendahkan kehormatannya sebagai manusia?," ujarnya. (aua/ali)
Editor : Achmad Ulil Albab