ISTIQBALUL Fitriya punya cara sendiri untuk berguna di kalangan masyarakat.
Yaitu melalui dunia literasi dan komunitas. Bertahun-tahun ia konsen di isu iklim dan lingkungan.
Isti (sapaan akrabnya) nampak aktif diberbagai perkumpulan anak muda. Tak jarang ia berbagi dalam forum-forum mengenai isu lingkungan.
Tak jarang ia berinteraksi dengan berbagai pegiat lingkungan. Misalnya saat webinar penggunaan kantong plastik.
”Penanganan perubahan iklim itu masuk dalam agenda PBB. Namun masih banyak orang yang abai mengenai darurat iklim,” tandas perempuan kelahiran 1997 itu.
Dia ini lahir di semacam komunitas peduli lingkungan. Saat ini melakukan kampanye iklim di komunitas bernama Bukit Buku.
Bersama teman-temannya telah melakukan kampanye di pesisir pantura.
”Saya ikut sebuah komunitas. Ini melakukan kampanye iklim di berbagai daerah,” tandasnya.
Tak hanya itu, komunitas tersebut didirikan sendiri oleh Isti. Dia menggandeng orang yang punya satu misi dan visi. Bersatu untuk menjaga iklim.
komunitas itu bagian dari Kolektif Hysteria. Yakni, komunitas yang membahas terkait seni, isu kampung dan kota, dan anak muda, serta kreatifitas.
Mulai dari situ ia konsen bikin konten dan daring untuk even literasi.
Isu lingkungan itu dibangun melalui berbagai cara. Salah satunya dengan bercerita. Istri kerap menjadi pemantik obrolan di berbagai kalangan.
Banyak referensi yang Dia ambil. Dari buku yang ditulis tokoh di Indonesia. Juga ada yang dari India. Juga ada cerita fiksi.
”Sebab cara komunikasi melalui karya fiksi ini terus bergerak di sekitar manusia. Cerita ini mengisi masyarakat,” ucapnya.
Selain, kegiatan membaca buku, komunitasnya juga membaca alam semesta seperti peduli dan mengkampanyekan krisis iklim dan isu lingkungan.
Semua itu berfondasi dari buku sebagai bahan belajar.
”Sehingga dua kegiatan tersebut dapat dimulai dari mana saja dengan cara bercerita.
Alasannya karena semua orang suka menjadi bagian dari cerita dan tidak mengancam pikiran. Berbeda dengan memakai teori,” paparnya.
Dia memang ingin komunitasnya itu berkembang. Berawal dari komunitas kemudian menjadi semacam sekolah alam untuk semua orang.
”Tantangannya aku merasa belum cukup waktu untuk meluangkan membaca buku. Kemudian mengajak orang untuk membaca itu juga sulit,” pungkasnya. (adr/him)
Editor : Abdul Rochim