PATI, RADARPATI.ID - Lahirnya Yayasan Perguruan Islam Monumen (PIM) Mujahidin, Bageng, Gembong tidak terlepas dari aksi heroik para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada masa revolusi.
Atas jasa itulah Bupati Pati saat itu memberikan hadiah untuk dibuatkan monumen perjuangan.
“Dulunya mau dibuatkan monumen perjuangan seperti di pertigaan Pasar Gembong, namun oleh tokoh waktu itu KH Ali Isran minta agar dibuatkan madrasah saja biar lebih bermanfaat. Bupati Pati Roestam Santiko mengabulkan,” terang pengasuh Pondok Pesantren PIM Mujahidin Bageng, Kiai Sulkhan Muchtar.
“Kemungkinan pada waktu itu dikasih uang, termasuk untuk membuat bangunan madrasah. Karena dulunya bangunan dinding madrasah hanya terbuat dari gedek bambu,” imbuhnya.
Desa Bageng dulunya pernah menjadi pusat strategi dan pemerintah militer tingkat karesidenan.
Maka Bupati Pati berkenan membuat Monumen Perjuangan di Gembong dan Bageng.
Dalam sejarahnya pendidikan Islam pesantren di Bageng, Gembong sudah berkembang sekitar tahun 1934.
Ulama yang pertama kali menyiarkan Agama Islam di Desa Bageng adalah KH. Dawud (1886-1965).
Sebelumnya belajar di Desa Jontro Kecamatan Wedarijaksa Pati, pada Kyai Imam Tabut.
Pada usia 40 tahun barulah KH Dawud pulang menyiarkan Agama Islam, pada tahun 1901 lahirlah putra beliau yang pertama yaitu, KH. Dahlan (1901-1980).
Diantara santri KH. Dawud ialah KH. Zaeni, dan ulama lainnya.
Untuk meningkatkan Pendidikan Agama Islam maka para ulama mendirikan lembaga pendidikan berbentuk madrasah pada tahun 1934.
Pendidikan Islam di Bageng mengalami gangguan pada saat kedatangan penjajah, setelah proklamasi kemerdekaan.
Sebelumnya pendidikan Islam di lereng Pegunungan Muria itu juga sempat mendapat gangguan pada saat geger pemberontakan PKI-Muso Madiun.
Bageng menjadi sasaran komunis. Para ulama di Bageng dimasukkan daftar hitam untuk dibunuh.
Untunglah rencana jahat itu tidak terlaksana karena datangnya pasukan Siliwangi.
Gangguan kembali datang pada saat agresi militer Belanda kedua (19 Desember 1948 — 5 Januari 1949).
Wilayah Bageng tidak luput dari serangan militer Belanda.
Serangan tersebut membuat banyak jatuh korban.
Termasuk terbunuhnya KH Zaini, salah satu pendiri madrasah sekaligus pejuang di Bageng.
Serta dua orang anggota ABRI bernama Darimin dan Wahman.
Pada masa darurat itu pembelajaran cukup terganggu.
Pembelajaran hanya dilakukan di sela-sela perjuangan dan ketika dalam keadaan aman.
Perang baru benar-benar selesai tahun 1950, keadaan telah aman.
Setelah aman, pendidikan di madrasah digiatkan kembali.
Madrasah ini kemudian dinamakan Madrasah Islamiyah.
Pada tanggal 1 April 1961 dibuka Madrasah Tsanawiyah yang kemudian disempurnakan pada tanggal 20 Desember 1969 dengan menggunakan kurikulum Departemen Agama.
Peningkatan selanjutnya dengan membuka Madrasah Aliyah pada tanggal 2 Januari 1971.
Karena Desa Bageng pernah menjadi pusat strategi dan pemerintah militer tingkat karesidenan, maka Bupati Pati (siapa tahun berapa) berkenan membuat Monumen Perjuangan di Gembong dan Bageng.
Monumen untuk Gembong berupa patung perjuangan.
Khusus untuk Bageng, atas permintaan KH. Ali Isran diwujudkan dalam bentuk Madrasah.
Hal ini diterima oleh Bupati, maka berdirilah monumen dalam bentuk Perguruan Islam Monumen dengan nama Mujahidin.
Tanda monumen ini berupa prasasti yang ditanam pada dinding madrasah oleh Prof. DR. H. A. Mukti Ali, MA. (Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan II)
Pada tanggal 5 Mei 1981, didirikanlah Yayasan Perguruan Islam Monumen Mujahidin Bageng dengan Akta Notaris Nomor 21 oleh Imam Sutarjo, SH. Ketua Umum Yayasan pertama dipegang oleh KH. Ali Isran.
Untuk memperlancar tugas-tugas dan kegiatan Yayasan, maka dibentuk beberapa bidang.
Antara lain: Bidang I yang mengurusi pembangunan, Bidang II yang mengurusi Sosial Ekonomi, dan Bidang III yang mengurusi Pendidikan dan Dakwah.
Yayasan PIM Mujahidin ini mengelola beberapa madrasah, antara lain: Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Diniyyah, Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Dakwah, dan pengajian berbagai macam kitab.
Dengan keberadaan MA PIM Mujahidin Bageng Gembong Pati, dapat membantu calon siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang sekolah lanjutan tingkat atas di lingkungan Kecamatan Gembong.
Sehingga tidak perlu mencari sekolah yang jauh letaknya. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab