Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Lahan Kritis di Pati Dinilai Jadi Biangnya Banjir, Ini Penjelasanya

Alfian Dani • Selasa, 12 Maret 2024 | 09:55 WIB
Infografis Kondisi banjir di wilayah Pati Utara
Infografis Kondisi banjir di wilayah Pati Utara

PATI, RADARPATI.ID – Wilayah Pati bagian utara seperti Kecamatan Tayu dan Dukuhseti kerap kali diterjang banjir.

Wilayah ini menjadi langganan banjir. Meskipun banjir hanya sebentar dan biasanya cepat surut.

BPBD Kabupaten Pati mengungkapkan jika lahan kritis di wilayah atas Pegunungan Muria menjadi penyebab terjadinya banjir terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

Wilayah atas ini merupakan daerah tangkapan hujan namun tidak maksimal sehingga terjadi banjir.

"Ada sejumlah faktor. Namun faktor yang utama adalah sebagian lahan di Pegunungan Muria Pati tergolong lahan kritis," ungkap Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya.

Lebih lanjut, pihaknya mengungkapkan, jika dirunut ini lantaran beralihnya fungsi hutan lindung menjadi tanaman semusim.

"Ada alih fungsi seperti menanam padi, ketela dan sebagianya. Buahnya (akibatnya) diambil dan dirasakan oleh masyarakat Pati sebelah utara,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, beralihnya kawasan hutan menjadi tanaman semusim ini membuat lahan kritis dan penyerapan air hujan tak berjalan dengan maksimal. Hanya sebagian kecil air yang terserap ke dalam tanah.

"Tidak hanya itu air tersebut juga membawa tanah ke daerah yang berada di bawahnya. Hal ini membuat percepatan sedimentasi sungai-sungai di wilayah Pati utara," paparnya.

”Air yang turun membawa tanah sehingga sungai-sungai di wilayah utara cepat terjadi sedimentasi.

Saat terjadi hujan deras dan lama, sungai tidak mampu air dengan baik karena sedimentasi itu, sehingga terjadi banjir,” imbuh Martinus.

Pihaknya berharap ada penanganan jangka panjang dari berbagai pihak untuk memperbaiki keadaan ini.

Baik reboisasi dan normalisasi sungai. Martinus juga meminta kepada masyarakat untuk menjaga sungai.

”Himbauan kami jangan memperparah sedimentasi sungai dengan membuang sampah di sungai,” pungkasnya.

Diketahui berdasarkan riset Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah dalam kurun waktu 2018-2022, sebanyak 16,9 ribu hektare lahan di Kabupaten Pati masuk kategori kritis.

Bahkan, hampir 17 ribu hektare lahan tersebut di antaranya masuk kategori sangat kritis.

Selain di Pegunungan Muria, lahan kritis ini juga terjadi di Pegunungan Kendeng Pati.

Alih fungsi lahan dan aktivitas penambangan dinilai meningkat erosi, hilangnya lahan pertanian subur, hilangnya investasi dalam infrastruktur irigasi, kerusakan natural lanskap dan masalah lingkungan lainnya. (aua/him/ade)

Editor : Alfian Dani
#pati #banjir #Utara #banjir pati #dinilai #lahan kritis