PATI, RADARPATI.ID - Berbicara mengenai hal mistis, kota Juwana dulu dianggap sebagai kota yang ‘sangar’ akan hal-hal yang gaib.
Segelap merupakan salah satu tempat mistis yang dipercaya masyarakat Juwana.
Segelap adalah sebuah bangunan berupa makam seorang wanita yang bernama Den Ayu Roro Pudjiwat.
Makam Segelap ini berada di pinggir jalan raya pantura Juwana - Pati, masuk ke dalam wilayah Desa Growong Lor Kecamatan Juwana.
Makam ini berada tepat di sebuah jembatan yang menghubungkan sungai Juwana sehingga masyarakat banyak menyebutnya “jembatan segelap”.
Asal - usul “segelap” ini memiliki banyak versi yang diceritakan sesepuh dulu.
Kali ini cerita asal -usul “segelap” diceritakan oleh seorang sesepuh yang merupakan seorang pedagang di warung seberang makam segelap ini.
Ia mengatakan bahwa cerita segelap ini memang sudah banyak diketahui oleh masyarakat Juwana namun memiliki banyak versi yang berbeda.
Segelap ini merupakan makam putri Sunan Ngerang yang kedua bernama Raden Ayu Pudjiwat.
Dulu, Raden Ayu ini ingin dipersunting oleh seorang pangeran dari Keraton Solo bernama Ronggo Joyo.
Raden Ayu memberi syarat kepada pria itu jika ingin mempersuntingnya, sang pangeran harus sanggup membawakan gerbang Majapahit yang berada di Mojokerto menuju ke Ngerang, salah satu desa di Juwana.
Akan tetapi, Ronggo Joyo hanya mampu membawakan ganjal pintu gerbang Majapahit tersebut ke hadapan Raden Ayu.
Raden Ayu menolak karena keinginannya tidak terpenuhi.
Raden Ayu pun berlari dari Ngerang menuju ke Barat hingga berhenti di pinggir Sungai Juwana.
Ronggo Joyo yang mengejarnya kemudian ikut berhenti kemudian melemparkan ganjal pintu itu kepada Raden Ayu hingga Raden Ayu meninggal.
Ganjal tersebut kemudian hilang atau lenyap dalam sekejab seperti kilat sehingga tempat tersebut dinamakan “segelap”.
Mitos yang berlaku di sana adalah beberapa orang yang memiliki ilmu tinggi, melihat makam tersebut adalah sebuah keraton.
Untuk itu para pengendara yang melewati jembatan tersebut harus memberi salam, permisi, dengan cara membunyikan klakson untuk menghormati arwah yang berada di sana. (Aulya Dewantari)