PATI, RADARPATI.ID – Industri kecil menengah (IKM) di Kabupaten Pati mulai merangkak naik.
Beberapa barang mulai diekspor ke luar negeri khususnya Jepang dan Eropa.
Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati jumlah IKM ada 1.000-an pelaku.
Hasil dari insdustri tersebut di antaranya, makanan ringan hingga produk seperti mebel.
Kepala Disdagperin Pati Hadi Santosa menjelaskan, keadaan IKM saat ini sudah membaik ketika pandemi korona berakhir.
Berbagai makanan ringan mulai ramai di kalangan masyakarakat.
”Industri yang mengalami kenaikan makanan ringan. Lainnya masih stagnan. Korona dulu ada yang gulung tikar. Ini sudah mulai bertambah industrinya,” paparnya.
Di samping itu, industri handycraft terbilang stagnan. Sebab tergantung pada pasarnya.
”Kalau makanan kan semua orang butuh. Untuk handycraft ini tergantung pasarnya,” tuturnya.
Beberapa produk IKM dikatakan Hadi, sudah diekspor. Misalnya hasil olahan laut dan mebel.
Di sisi lain, salah satu pengrajin handycraft, Syahrial Aman menambahkan, kerajinan tas anyaman miliknya itu sudah merambah ke pasar Internasional belakangan ini. Padahal awalnya fokus untuk pasar lokal.
Beberapa tahun terakhir mulai ekspansi ke luar negeri dengan negara tujuan ekspor seperti Jepang, Belgia, Australia, Singapura, dan Inggris.
Resepnya, rajin mengikuti pelatihan dan even bisnis di kota besar.
”Bisnis saya terbuka melalui banyak relasi dalam even-even. Modalnya juga menang dari berbagai even maupun expo. Baik di Indonesia maupun luar negeri,” tuturnya.
Kini bisnis Syahrial mulai berkembang. Awalnya dia hanya punya 3-5 karyawan saja.
Itu pun didapat dari tempat ia menjadi reseller. Dari sana dia menggait masyarakat setempat.
”Saya kasih mereka fee bagi yang bisa melatih ibu-ibu untuk menganyam. Akhirnya mereka tertarik dan sekarang sudah menjadi 350-an orang,” tukasnya. (adr/him/ade)